Aluk sanda saratu’ dibawa dan diperkenalkan oleh Tomanurun Dilangi’ ( orang yang turun dari langit).
Aluk atau aturan2 ini dikenal luas dalam masyarakat Toraja dan masih dipegang sampai sekarang ini.
Aluk sanda saratu’ dibawa dan diperkenalkan oleh Tomanurun Dilangi’ ( orang yang turun dari langit).
Aluk atau aturan2 ini dikenal luas dalam masyarakat Toraja dan masih dipegang sampai sekarang ini.
Apakah anda pernah mendengar nama Frans Karangan?
Figur ini adalah pejuang Toraja pada jaman gerombolan. Jaman gerombolan adalah jaman pemberontakan setelah kemerdekaan yang terjadi di Sulawesi Selatan.
Pemberontakan ini dipelopori olej Kahar Muzakkar karena sakit hati terhadap TNI.
Frans Karangan adalah anggota TNI yang kemudian berjasa untuk menunmpas gerombolan DI/TII dari Tana Toraja.
Karena jasanya itu, dia bisa disejajarkan dengan pendahulunya yaitu Topada Tindo, yang juga berhasil mengusir tentara Bone dari bumi Lakipadada.
Anak Toraja harus tahu dan tetap memelihara nilai-nilai perjuangan Topada Tindo, Frans Karangan, Pappang dan para pejuang lain yang telah mengangkat Toraja.
Suatu saat, Toraja akan menjadi negeri yang bebas bekerjasama dengan bangsa manapun. Tidak terkungkung dalam lingkaran politik di Sulawesi Selatan dan Indonesia yang cenderung korup dan nepotisme.
Sayangnya itu tidak akan terwujud dalam waktu dekat. Saat ini komposisi anggota DPRD Tana Toraja dan juga DPRD Toraja Utara ternyata diisi oleh orang-orang yang cukup mampu membawa Toraja ke depan.
Melihat format undang-undang atau perda saja mungkin belum pernah.
Itulah produk dari Demokrasi yang salah arah dari Republik Indonesia tercinta ini.
Saya berharap suatu hari kelak, akan ada orang yang secerdas dan penuh pengorbanan untuk Lepongan Bulan, seperti yang telah diperlihatkan Frans Karangan, Pappang, Pong Tiku, dan Topada Tindo.
Ada beberapa hal yang cukup menarik tentang tokoh ini.
1. Dia adalah orang yang sangat berpengaruh di Rantepao pada jaman pendudukan Belanda di Toraja.
2. Dia adalah seorang pemangku adat. Sangat menjunjung tinggi adat Toraja pada zamannya.
3. Dia cukup kaya pada jamannya. Dari video pemakamannya yang semapt didokumentasikan oleh Belanda, tampak bahwa pemakaman Pong Maramaba adalah yang termeriah yang pernah dilakukan di Rantepao.
4. Dia sempat berjumpa dengan van de Loostrecht, seorang misionaris Zending GZB, yang menjadi cikal bakal berdirinya Gereja Toraja.
Hari hari ini kita banyak mendengar berita tentang pemilu. Ada banyak sekali berita mengenai hal ini di koran, televisi, website dan bahkan dari perbincangan di warung-warung kecil.
Namun ketika kita mencoba mencermati, ternyata sebagian besar berita-berita dan informasi mengenai pemilu tersebut sebenarnya sangat mengganggu dan meracuni pola pikir kita.
Kita secara tiba-tiba menjadi politikus, dan bahkan hampir seluruh bangas ini menjadi politikus sessat. Sayangnya ini tidak berarti apa-apa buat bangsa ini.
Berita-berita tentang caleg stress, carut marutnya pemilu, sepak terjang elit partai yang berusaha mencari dan mempertahankan kekuasaan sangat meracuni cara berpikir kita.
Mengapa bisa demikian ?
Karena apa yang kita pikirkan dan apa yang kita lakukan juga dipengaruhi oleh apa yang kita lihat dan apa yang kita dengar. Dan juga bisa membuat kita menyukai sesuatu yang awalnya tidak kita sukai, misalnya politik.
Tadi pagi saya mendengar paparan dari Bigman Sirait di radio. Dia menyebut Vietnam yang belum mengenal demokrasi ternyata bisa memperbaiki ekonominya dan mengurangi pengangguran tanpa demokrasi.
Sementara Indonesia yang notabene sudah ber-revormasi di 1998 ternyata belum bisa berbuat banyak untuk memperbaiki kehidupan masyarakatnya.
Ketika media ramai-ramai membicarakan pemilu, semua orang membicarakan pemilu. Ketika media membicarakan flu babi, semua orang sontak berbicara flu babi. Ini membuktikan bahwa cara berpikir publik Indonesia sangat tergantung pada media dan informasi dari luar tanpa adanya proses analisa dan penyaringan terlebih dahulu.
Mari kita berpikir untuk kemajuan bangsa ini, bukan berpikir tentang pemilu dan presiden.
Presiden hanya menentukan 10% dari kemajuan kita dan bangsa ini. Sisanya 90% ditentukan oleh cara berpikir dan tindakan dari kita sebagai masyarakat Indonesia.
I love Indonesia ….