Frans Karangan, pejuang Toraja masa Gerombolan


Apakah anda pernah mendengar nama Frans Karangan?

Figur ini adalah pejuang Toraja pada jaman gerombolan. Jaman gerombolan adalah jaman pemberontakan setelah kemerdekaan yang terjadi di Sulawesi Selatan.

Pemberontakan ini dipelopori olej Kahar Muzakkar karena sakit hati terhadap TNI.

Frans Karangan adalah anggota TNI yang kemudian berjasa untuk menunmpas gerombolan DI/TII dari Tana Toraja.

Karena jasanya itu, dia bisa disejajarkan dengan pendahulunya yaitu Topada Tindo, yang juga berhasil mengusir tentara Bone dari bumi Lakipadada.

Anak Toraja harus tahu dan tetap memelihara nilai-nilai perjuangan Topada Tindo, Frans Karangan, Pappang dan para pejuang lain yang telah mengangkat Toraja.

Suatu saat, Toraja akan menjadi negeri yang bebas bekerjasama dengan bangsa manapun. Tidak terkungkung dalam lingkaran politik di Sulawesi Selatan dan Indonesia yang cenderung korup dan nepotisme.

Sayangnya itu tidak akan terwujud dalam waktu dekat. Saat ini komposisi anggota DPRD Tana Toraja dan juga DPRD Toraja Utara ternyata diisi oleh orang-orang yang sepertinya tidak mampu membawa Toraja ke depan.

Melihat format undang-undang atau perda saja mungkin belum pernah.

Itulah produk dari Demokrasi yang salah arah dari Republik Indonesia tercinta ini.

Saya berharap suatu hari kelak, akan ada orang-orang yang secerdas dan penuh pengorbanan untuk Tondok Lepongan Bulan, seperti yang telah diperlihatkan Frans Karangan, Pappang, Pongtiku, danĀ  Topada Tindo.

- Link yang terkaitĀ  :

1. Topada Tindo

2. Pongtiku

3. DPRD Tana Toraja

4. DPRD Toraja Utara

Sekilas info tentang Frans Karangan :

1. Nama Frans Karangan sudah dijadikan sebagai salah satu nama Jalan di dalam Komplex LINUD 700 di Makassar.

2. Akan sangat bagus jika saja pemerintah Tana Toraja dan Toraja Utara mengabadikan namanya menjadi salah satu nama jalan di Kota Makale atau Rantepao.

112 Responses to “Frans Karangan, pejuang Toraja masa Gerombolan”

  1. Elias Says:

    Mari kita pemuda toraja, mengikuti semangat pejuang kita menjaga bumi lakipadada dari gesekan dunia luar.

  2. sangmanemu tee' Says:

    Masih banyak tokoh -tokoh Toraja yang berjuang saat jaman gerombolan selain Frans Karangan … salah satunya adalah Letnan Guling ..mantan Komandan Polisi militer saat itu sayang beliau kurang di kenal di telinga masyarakat toraja di masa sekarang ini karena kurang ter ekspose namun orang tua kita yang sudah berumur 60 tahun keatas akan mengenal nama tersebut….sudah ada rencana tahun 1990 u membuat buku ttg peristiwa Andi sose di Toraja oleh Puang Sangalla ( Puang Popang) .Namun satu persatu saksi hidup yang ikut berjuang saat itu telah di panggil oleh Yang Maha Kuasa.
    Masih banyak lagi tokoh2 toraja yang lain … Marilah kita pemuda /i untuk melanjutkan pembuatan buku yang telah di rintis oleh Puang Popang agar dapat di jadikan pemersatu orang toraja u masa kini dan masa depan
    walau wilayah toraja telah terpecah menjadi dua pemerintahan . Mulailah dari sekarang.

  3. frans bararuallo Says:

    Bapak/Ibu?sdra-i sang Torayaan yth,

    Sebenarnya data tentang para pejuang kita, sastrawan Toraja tempo dulu, para parane’ tempo dulu yang terkenal seperti Karasiak dan Saba’ dari Langda Madandan, Patanak dari Kanuruan – Nonongan, atau mereka yang berjuang untuk kepentingan kemajuan Toraja kami sangat butuhkan untuk diberi penghargaan di dalam International Conference on Toraja tgl 26-30 di Heritage Hotel dan Misiliana Hotel. Namun informasi seperti di atas agaknya sudah terlambat. Mohon maaf jika nanti yang mendapatkan sertifikat penghargaan tidak merata atau tidak sesuai dengan seharusnya. Kami buka tidak siap nenberikan tetapi kami perantau yang kurang informasi tentang hal seperti itu. Kami, Stearing Commitee dari Jakarta pernah mengirim surat ke UKIT Makale, tetapi tidak jawaban. Jadi kami terpaksa dengan segala kekurangan memberi yang kami tahu saja. Sekali lagi mohon maaf jika tidak merata.
    Pada awal pembukaan, juga pada hari kedua akan diresmikan oleh Gubernur/Wakil Gubernur tentang peletakan batu pertama UKIT di Makale (dekat Kolam) dan pada hari terakhir (30-7-2009) akan ada ulasan singkat tentang asosiasi peneliti Toraja. Mungkin ada topik penelitian tertentu yang dapat diusulkan untuk dibiayai atas nama UKIT Makale. Ini tambahan informasi saja demi kepentingan kita semua,

    Kami para pendiri lembaga budaya PUTRA TOPITU dan Stearing Commitee ICOT menyampaikan selamat atas usul dan perhatian siapapun terhadap kemajuan Toraja.

    Salama’
    frans bararuallo

  4. frans bararuallo Says:

    Bpk/Ibu/Sdra-i Sangtorayaan yth,

    Sy sedang menjejaki siap yang bisa memberi informasi lengkap tentang alur kehidupan dan perjuangan Bapak Frans Karangan. Kami bermaksud menyusun buku untuk itu. Tolong infonya. Tim penyusun buku telah terbentuk.

    Terima kasih,

    frs

    • cresha Says:

      Coba jejaki Jl. Telkom VII No. 220 Telkomas , kebetulan ibu adalah adik kandung dari bp. Frans Karangan, siapa tau saja bisa memberikan informasi yang dibutuhkan. Tks.

      • Disty Says:

        atau coba saja langsung ke jl.sungai tangka no.25,.
        disana bisa langsung ketemu sama istri Alm.Frans Karangan.,
        kebetulan Belia kakek saya (ayah dari ibu saya)
        Terima Kasih,. :)

    • petruska karangan Says:

      saya putra ke-3 dari bpk.Mesach Frans Karangan, Ibunda kami masih ada (Ny.Zara Sampetoding Karangan), banyak informasi tentang perjuangan ayah yang beliau tahu persis karena terlibat didalamnya sebagai salah seorang paramedis, bahkan ada diantara beberapa pertempuran bersenjata di toraja. bisa kontak saya di Email : http://www.petu_karangan@yahoo.com

    • Petrus Salu Sampetoding Karangan. Says:

      sorry late to reply, baru saja lihat kalau ada rencana penulisan buku tentang para pejuang dari toraja (salah seorang diantaranya adalah ayah kami, Frans Karangan), salah seorang nara sumber yang megikuti langsung perjalanan perjuangan ayah handa adalah ibu kami (istri beliau) dan sampai sekarang masih tinggal di kota makassar di Jl. Sungai Tangka NO.25. saya kira hampir semua orang tokoh toraja yang pernah tinggal di makassar tau alamat rumah tersebut.

    • sangmane Says:

      Bapak Frans,
      Apakah bukunya sudah terbit ? Kalau sudah tolong dikabari yah. Saya pengen beli.

      salamaq,
      Sangmane.com

    • F Shinta A Karangan Says:

      Banyak hal yang bisa di dapatkan jika ketemu dgn ibu Frans Karangan ( Ny Zara Sampetoding ) dan bbrp kel Toraja yang banyak mengetahui sejarah..
      Salam

      Shinta Karangan ( putri bungsu Alm Frans Karangan )

      • Daniel Sulekale Says:

        Yth. Ibu F. Shinta A. Karangan,

        Saya juga ingin sekali bertemu Ibu Shinta suatu ketika apabila diberi kesempatan. Frans Bararuallo itu kawan saya di SMP dan SMA dulu. Rupanya kami sama-sama punya ketertarikan dengan tokoh-tokoh pejuang Toraja untuk dibukukan. Mungkin tujuan kami pun sama. Tapi perspektif analisis bisa beda. Pak Frans Bararuallo saat ini kalau tidak salah adalah seorang dosen, saya pensiunan PNS. Setelah pensiun saya menerbitkan majalah pembangunan. Intuisi jurnalistik saya ingin saya asah dengan menulis buku juga tentang Toraja. Kita perlu meninggalkan jejak-jejak tertulis mengenai eksistensi ketorajaan kita untuk generasi penerus… Dan kisah-kisah heroik adalah topik yang paling menarik.
        Terima kasih jika diberi kesempatan bertemu Ibu Shinta. Alamat email saya: ddalle2000@yahoo.co.uk.

        Salama’ kaboro’

        Daniel Sulekale

  5. Sony Says:

    Silahkan datang di makassar, Jl. Telkomas Raya No.10 untuk menemui bpk. Y.T. Padua, beliau adalah mantan prajurit Frans Karangan sejak perjuangan permesta dan terbentuknya kompi R pimpinan Kapt. Frans Karangan, cikal bakal Batalion 758 (1957) dan sekarang Batalion 700 Raider. Anda dapat juga menemui Bpk. Maluang (keluarga Frans Karangan) dengan alamat yang sama. Trims

  6. frans bararuallo Says:

    Terima kasih banyak Bp. Sony. Sy akan menjumpai Bp. Y.T. Padua dan Bp. Maluang dalam waktu dekat bersama tim khusus yang kami bentuk untuk itu. Mohon maaf, sy adalah keponakan Kapten Palebangan dari Langda (pihak Bapak) dan juga keponakan Kapten Lisungan (pihak Ibu) dari Nonongan. Kedua orang ini sudah almarhum dan tentu Bp. Y. T. Padua mengenalnya dengan baik.

    Di samping itu, sy adalah salah seorang pendiri Putra Topitu di Jakarta, bersama Dr. Tanete Pong Masak, Dr. Komet Mangiri’, Dr. Marcelus Rantetana, Drs. Victor K. Senobua’, dan Drs. Leo Kotu Limbu. Sebuah lembaga adat yang memsponsori Torajalogy atau keilmuan Toraja. Kini masih sebagai sekretaris dari lembaga tersebut.

    Sekali lagi terima kasih banyak dan mohon maaf jika sy memperkenalkan diri sebelum kami menemui kedua calon informan di atas.

    Kini sy masih berada di luar untuk kepentingan/kepengurusan Internationa Conferen on Toraja yang kedua di Tokyo University (kemungkinan besar di sana).

    Sekali lagi terima kasih banyak,
    Salama’,
    frs

  7. apri Says:

    gmn dng politik mendekati pemilhn bupati, pa da yg bsa qm ktahui

  8. stepanus Says:

    Kisah heroik Frans Karangan cs, memang hingga kini masih beredar secara lisan, sejalan dengan tradisi lisan toraja yang amat sangat kuat. Niat untuk membuat buku semacam ini hendaknya tidak menghilangkan nuansa heroik yang kuat dalam tradisi lisan yang hidup dalam kebudayaan kita.

  9. frans bararuallo Says:

    Pak Stefanus dan Sang Torayaan Yth,

    Kami, memang, tidak bermaksud mendegradasi nilai apa pun dalam proses menulis riwayat perjuangan Frans Karangan cs. Apalagi yang namanya nilai dan uansa heroik dalam budaya Toraja. Nilai ini kami sangat junjung tinggi karena itu merupakan suatu kearifan (Toraja culture heritage) yang teramat sulit ditemukan di bagian bumi lain di dunia ini.
    Jadi, kalau perlu, nanti konsepnya akan diseminarkan terlebih dahulu untuk melihat mana yang boleh dan mana yang tidak boleh tertera di dalam buku yang direncanakan diterbitkan itu.
    Jadi mohon maaf dan kita boleh berdiskusi terus,
    frs

  10. christian andika Says:

    maaf saya ingin tahu siapa nama komandan DI/TII di toraja

    apa ada nama puang LONDONG ALLO..???

  11. torayana... Says:

    untuk lebih jelas tentang peristiwa gerombolan di toraja DI/TII 1959 di toraja …lebih rinci silahkan tanyakan pada saksi2 pelaku yang aktif ikut berjuang di toraja seperti bpk. ne,Sanda dan ne ,Monika ,mayor Godjang,lettnan Pappang,Puang Somalinggi,Pak Ulia Salurapa,hakim Tallu,mantan sekda toraja pak Palamba,yang di komandoi oleh letnan CPM E.guling Biyang,dan beberapa orang lagi yang belum di sebutkan namanya, dan masyarakat sekitar panggala dan rantepao yang di jadikan basis perlawanan masyarakat tojara saat itu.sumber informasi dapat juga di ambil dari mantan pasukan gerombolan yang masih hidup di toraja termasuk mantan petinggi gerombolan yang masih hidup seperti Puang longdong Allo.Nah mereka dapat dijadikan bahan info u pembuatan perjuangan masyarakat toraja di kala tahun 59 yang menegangkan ….

  12. sangmane Says:

    terima kasih untuk masukan dari saudara torayana …
    akan lebih bagus lagi jika anda bisa memberikan kontak untuk masing2 pelaku sejarah yang anda sebutkan sehingga kami bisa melakukan interview dengan mereka.

    kurre sumaga’,

  13. frans bararuallo Says:

    Maaf bagi torayana dan keluarga sang Torayan,
    Ada sejumlah nama yan disebutkan sudah mendauhului kita, seperti Lettnan Pappang dan Pak Ulia Salurapa. Mungkin yang masih hidup saja.
    Rencana tahun ini tim kami akan ke Makassar, Toraja, dan Palu. Mungkin boleh menghubungi kami kaan tepatnya agar kita diskusikan, persis sama yang diusulkan oleh sangmane.

    Terima kasih,
    frans b.

    • luteq pong bila Says:

      pak frans yang terhormat,
      Tentara andi sose dulu berangkat ke toraja adalah bagian dari TNI jadi bukan gerombolan pemberontak seperti DI/TII.(Kalau menurut ayah saya mereka datang dengan pakaian tentara lengkap dengan persenjataan standar)
      Kalau dia dulu memerangi toraja sebagai gerombolan pemberontak, maka kemudian bisa dipastikan dia tidak akan hidup aman dan nyaman setelah masa kemerdekaan. Tapi kenyataan sebaliknya.
      Bagi orang rantepao tidak terlalu mempersoalkan lagi kejadian itu karena sebagian besar serdadu andi sose dulu telah menjadi pupuk bagi tanaman putri malu yang tumbuh sepanjang sungai sa’dan mulai dari rantepao sampai
      rantelemo.
      Mungkin lebih baik energi dan pemikiran topitu lebih di fokuskan pada topik2 yang membawa manfaat langsung bagi sang torayaan. Selamat berjuang, Tuhan memberkati.

      • Petrus Salu Sampetoding Karangan. Says:

        Saudara luteq yang terhormat, Bpk andi sose’ itu memang tentara (dia anggota TNI) dan kalau mau tau strukturnya, ketika masih berkedudukan di kalosi, maka komandan resimennya itu adalah Kahar Muzakar, dan Komandan Batalion adalah andi sose’, sementara ada 3 (tiga) komandan kompinya yaitu : Frans Karangan, Andi Lantara’ dan seorang lagi lupa (ibu saya masih ingat), kemudian yang namanya Kahar Muzakar dan Andi Sose’ terlibat didalam upaya pembentukan negara islam dan itu dikenal dengan DI/TII, semnetara para komandan kompinya memisahkan diri karena tidak sepaham, maka pecahlah peristiwa makale (penembakan mortir oleh pasukan Sose’ yang pecahannya mengenai kepala Frans Karangan yang ternyata tidak bisa melukainya) dan seterusnya tanaya ibu saya, pertemuan makalae itu ada photonya.

      • Petrus Salu Sampetoding Karangan (alias Petruska Karangan) Says:

        Perkenalkan nama saya Petrus S S Karangan ( di professi saya dikenal dengan nama Petruska Karangan, putra ke 3 dari almarhum Mesach Frans Karangan)
        Andi sose dan Bpk Frans Karangan, tadinya tergabung di dalam pasukan yang sama, dengan komandan resimen adalah Kahar Muzakar dan andi sose waktu itu adalah komandan batalyon sementara Frans Karangan (ayah saya) adalah salah satu dari 3 komandan kompi dari pasukan tersebut, jadi memang sose’ ke toraja dengan pakaian tentara tapi dengan missi pribadi atau missi kelompoknya.

  14. rhIez_R Says:

    thanks atas Infox…..
    sya sneng biaza banxk dpt Info ttg kEPahlawan Org tanah Toraja……
    KbetULan sya LahIr d KaLtim tp kEturunan asLi Org tOraja jd banxk haL yg sya Ingin pElajarI ttg ada Istiadat sUku tOraja sEbagai jati dIri Org tOraja..!!!!!!

  15. Daud Sandalayuk Says:

    Apa yang disampaikan di Atas benar adanya ,sesuai dengan apa yang saya dengar dari seorang Pensiun TNI 713 Bpk.Limbe.
    Kahar Muzakar sebagai Komandan DII/TII ,Pada saat itu di Panggil Soekarno (Presiden RI) Melalui M.Jusuf untuk menghadap di Istana ,Kahar Mau menghadap apabila M.Jusuf
    menjamin bahwa tidak ada PKI di SUL_SEL dan semua dokumen nama2 dimusnakan tapi pak Jusuf menolak,Dia tetap pemberontak dan lari ke hutan akhirnya ditangkap.
    Sedang tokoh yang diusulkan untuk dapat penghargaan di Toraja saya kira wajar2 saja sepanjang semua Masyarakat,Tokoh Masyarakat,Tokoh Agama ,DPR menyetujui. jgan sampai penghargaan cuma main2 yang tidak punya nilai apa2.Padahal Tokoh2 itu sudah dihargai turun Temurun oleh Masyakat Hukum adat Toraja di buktikan dengan masih memberi daging dari balakkaan dalam rambu solo’ dan penghargaan semacam ini tidak ada di Daerah lain dgan disebut : e tana Pong Kalua’ dari Randanbatu, e tana Pong Karasia’ madandan ,Sirrang…Patanak, ..Tumbang Datu…….dan seterusnya dan diperlakukan di seluruh wilayah Toraja. dan inilah keputusan Hukum adat Tertingi di Toraja pada saat itu melalui suatu Kombongan dulu (belum ada tertulis),sekarang mungkin disebut Rapat paripurna tapi berlaku sesaat bisa berubah …….dan saran saya bagi keluarga keturunan dari Tokoh2 tersebut diatas dan yang tidak sempat saya sebut tidak usah minta2 piagan karena piagam itu siapa yang tandatangan tanpa piagam Anda sudah terhormat.tapi yang penting adalah buat silsilah Keluarga………

  16. frans.bararuallo Says:

    Maaf bagi para sesepu dan sangtoyaan yth,
    Putra Topitu tidak samasekali tidak bermaksud memposisikan diri pada sisi negatif dari masyarakat Toraja. Putra Topitu adalah putra multikulturalisme, berwawasan nusantara, dan berpandangan global. Putra Topitu sangat akrab dengan kemajuan, perkembangan yang menjurus ke arah positif, dan senang berinteraksi dengan masyarakat, khususnya masyarakat Toraja, yang memiliki wawasan luas, berpandangan baik, dan mereka yang tidak melihat ketidakberesan masa lalu untuk menatap masa depan.

    luteq pong bila, Daud Sandalayuk, dan sangtorayaan yth,
    Perang antar suku di Sulsel (Topadatindo, Perang Kopi, pemberontakan Andi Sose, cs 1953 dan 1958) tentu banyak membawa kerusakan tatanan sosial dan pola pandang masyarakat, khususnya masyarakat Toraja.

    Bahwa pembenrontakan DI/TII atau Kaharmusakkar itu wajar-wajar saja, karena kita generasi muda tidak menyaksikannya secara langsung. Tetapi cerita Toraja Selatan sampai wilayah Tadongkon dan Nonongan (mungkin Kesu’) di Toraja banyak membawa kesan buruk. Banyak kekayaan dan manak atau klo boleh disebut balok tondok hancur, hilang, dan rusak. Hal ini yang membuat kami tergugah untuk menyusun kisah perjalanan dan kepahlawanan Frans Karangan, cs dengan melampirkan nama-nama pejuang Topadatindo (1690) dan beberapa tokoh pejuang daerah di dalam Perang Kopi yang berakhir tahun 1890. Jadi bukan mengkultuskan Frans Karangan (maaf).

    Kakek moyang sy semuanya berdarah-daging Toraja Utara. Cerita Parenge’ Karasia’, Patanak misalnya tentu sy dfianggap masyarakat Langda dan Kanuruan pasti tahu persis. Bahkan satu-satunya bukti nyata tentang kepahlawanan Parenge’ Karasia’ adalah patungnya ketika diupacarakan yang masih tersimpan rapi di dalam keluarga saya. Bagaimana mungkin sy harus menyembunyikan kebenaran masa lalu di balik kehidupan sy (maaf). Bahwa taanna duku di dalam masyarakat Toraja, mulai dari pa’kiki’ sampai lesoan aluk Todolona Toraja tentu bolehlah kita berbagi cerita untuk kepentingan keilmuan masyarakat Toraja.

    Sekali sy tidak bermaksud untuk mengangkat feodalisme masa lalu, tetapi tokoh-tokoh pejuang yang membelah hak dan teritorial ketorajaan sewajarnya ada terulis secara benar sehingga ketenaran Toraja dapat menjadi milik bersama. Siapa tahu Bupati terpilih Toraja Utara nanti adalah orang Toraja Utara yang dicalonkan rakyatnya secara keseluruhan; bukan Bupati yang mencalonkan dirinya sendiri.

    Pak Daud Sandalayuk dan sangtorayaan yth,
    Kami tidak bermaksud membuat piagam tetapi museum tertulis (buku) dan mudah berpindahtangan yang bisa dibaca oleh siapapun sehingga nilainya jauh lebih bermakna. Klo silsilah tidak usah takut, pasti ada. tetapi itu terbatas peminatnya.

    luteq pong bila dan sangtorayaan yth,
    Pupuk putri malu yang disebutkan memang adalah arti kiasan. Namun makna keteritorialnya bagi orang Toraja salah lokalisasi. Tentara Andi Sose paling banyak tewas di Tadongkon, bukan di Rantepao. Di Manglua dan Tandung nama daerahnya. Hanya dengan embilan bedil, yang disiapkan sama dengan jumlah Nenek di Tongkonan Nonongan dengan Basse Sisarang Ampang. Jika mau tahu persis ceritanya, tyanyakan kepada Ne’ Boro’ di Langsa (antara Buntu Buaya dan Alang-Alang). Beliau cukup paham tentang Perang tahun 1958.

    Rasanya sekian dulu dan terima kasih banyak atas masukannya. Semuanya tertampung sebagai informasi pro dan kontra.
    Selamat berdiskusi secara positif,
    frs

  17. Daud Sandalayuk Says:

    Yth,Tim yang mau memposori tentang penulisan buku untuk Toraja ,cuma saran saja bahwa perlu suatu pembagian waktu dimana setip masa ada kepemimpinan yg tentu berbeda2 pada samannya saran kalau bisa dibagi 3 tahapan :
    I.Masa sbelm merdeka ” Untulak buntunna Bone”
    dengan yg berperan adalah Pong Kalua’ den teman (Pongng Karasia’,sirrang dan seterusnya………skitar thn 1500
    2.Masa Pong Tiku masa penjajahan Jepang
    3.Masa sesudah merdeka <Prans Karangan ,Belo dan lain .
    bisa saja yang dibuat Buku dulu adalah yg 3, sebagai pembanding di Jawa thn 1400 masa pemerintahan sriwijaya sampai merdeka'
    Mengenai DITII Pimpinan Kahar Musakar bukan cuma toraja targetnya tapi secara menyeluruh mau melawan pemerintah saat itu dan menjadikan Negara Islam ,bahkan pangdam saat itu M Jusuf dilawan sehinga melapor ke sukarno bahwa Kahar M tidak mau bergabung dan dia Menggerillya salah satu targetnya adalah Toraja krna mayoritas Kristen oleh karena itu Prans Karangan sebagai TNI wajib membela Negara dan wajar diberi penghargaan.
    Kalau tidak salah Ne'Boro' adalah pensiun tentara dan banyak mengetaui di Lemo Langda saya panggil Nenek Boro' ( masih Marga Sandalayuk).

  18. Daud Sandalayuk Says:

    Pak Cristian Andika, pertanyaannya mengarah keperson tapi memang betul bahwa masuknya Andi Sosek ke Toraja karena ada orang Toraja yg ikut kerja sama sekalipun keluarga Tetap ditentang ,ada lagunya itu.kalau mau tau lewat mail aja.Thanks

  19. Daud Sandalayuk Says:

    Mengenai Orang Perantau blik clon Bupati saya kira tidak salah karena itu bagian dari pengabdian dan tidak bertentangan dengan Demokrasi Panca Sila , tapi lebih baik lagi kalau biaya politik untuk pilkada disumbangkan saja itu lebih ril untuk membangun Toraja.kalau kalah tidak dapat penghargaan.

  20. frans bararuallo Says:

    Bpk Daud Sandalayuk dan Bpk Christian Andika serta sangtorayaan yth,

    Usul Pak Daud S tentu akan ikut mewarnai buku tentang Frans Karangan, yakni penelusuran menurut satuan waktu (dekade).Namun tidak memungkinkan secara rinci. Draf buku sudah tersusun rapi sejak 2007 akhir.

    Sy setuju jika biaya kampanye para perantau disumbangkan pada pendanaan proyek tertentu,khususnya di Torut. Namun ada baik dan bijaknya jika para calon bupati ditentukan oleh masyarakatnya sendiri yang menetap di sana. Masing-masing kecamatan atau wilayah adat misalnya. Soal nanti siapa yang ditunjuk, tergantung pilihan mereka sendiri dengan disertai tandatangan dan foto kopi ktp pihak yang mencalonkan. Jangan perantau yang datang mencalonkan dirinya …… Itu bukan cara demokrasi sejati.

    Nek Boro saya sebut-sebut sebagai orang yang banyak tahu tentang perang andi Sose karena beliau adalah salah seorang yang mengatur pertahanan dan penyerangan ketika itu dari dua arah. Mohon maaf jika ada pihak yang tidak setuju atas komentar saya ini.

    Memang harus dan perlu gererasi mudah mengetahui bahwa sebelum diadakan penyerangan wilayah Toraja sudah dikavling oleh kelompok dan sekutu penyerang, tetapi itu sudah pasti tidak berlaku lagi saat ini. Soal DI/TII tentu banyak pihak yang mengetahui basis dan wilayahnya sampai saat ini di seanteroh Toraja. Sisa-sisanya pun masih ada. Namun rasanya kurang tepat dibicarakan dewasa ini karena alasan tertentu yang lebih mempersatukan Toraja.

    Hal yang boleh dikatakan suatu kepastian adalah kita kurang bukti konkret yang tertulis. Saksi hidup pun sudah sangat minim. Katakanlah Perang Untulak Buntunna Bone (Topada Tindo) atau Perang Kopi ataukah Penyerangan Andi Sose’ dan sekutu-kutunya (2x), saksinya boleh dikata sudah hampir tidak ada orang yang mau bercerita tentang realita sesungguhnya.

    Sy hanya ingin menyampaikan bahwa hampir tujuh tahun terakhir Toraja keserang dari empat sisi dan aspek yang berbeda. Apakah Bapak/Ibu/Sdr menyadarinya saat ini akan hal itu ??? Mari kita diskusikan agar eksistensi Toraja tetap memiliki warna aslinya.

    Salam,
    frans b

    • sangmane Says:

      Dear Pak Frans Bararuallo,

      Ada statement anda yang menarik untuk dibicarakan bersama ” .. bahwa hampir tujuh tahun terakhir Toraja keserang dari empat sisi dan aspek yang berbeda”

      Apakah bisa diceritakan sisi apa saja yang diserang, bentuk serangannya dan siapa yang menyerang ?

      Kurre sumanga’,
      Sangmane

  21. fedrik ladi allolinggi Says:

    KOMPI FRANS …
    msih ada nama pjuang yg mkin klian ga tahu (DANIL SIANG)
    sthu sy dia jga yg mplopori KOMPI FRANS..
    nama KOMPI FRANS d’ambil dari NAMA BPK FRANS..

    oya kalo boleh tahu persatuan ank toraja d’jakarta alamat’y dmana???

    • sangmane Says:

      Pak Fedrik Ladi Allolinggi,

      Kurre sumanga’ atas informasinya. Apakah bisa diceritakan tentang Danil Siang ? Saya cari cari di buku literatur tetapi tidak ketemu.

      salama’,
      Sangmane

  22. egard Says:

    Coba pak frans bararuallo jln2 ke kota palopo di jln veteran no 2A,di st ada adik dr frans karangan, mungkin anda bs mendapatkan informasi penting tentang kakek frans karangan…

  23. saleko2011 Says:

    Tokoh FK… msh perlu dipertanyakan.
    Karena ada cerita tentang seorang gerombolan DI/TII di Tator yg membelot ke TNI dan memberikan informasi ttg gerombolan DI/TII di Tator. Akhirnya ia ditugaskan memimpin pasukan TNI, utk menumpas gerombolan tsb.
    Pengkhianat ato Pahlawan..??????
    Pahlawan tidak pernah berkhianat…

    • sangmane Says:

      saya kira itu hanya cara saja, intinya Frans Karangan menunjukkan kecintaannya kepada Toraja itu saja sudah cukup.

      • Tedongbonga Says:

        Sebaiknya dia baca Sejarah DI/TII dan Permesta, jangan mengacu pada ceritra orang karena belum tentu benar. Buktinya Toraja adalah bagian dari NKRI.

    • Petrus Salu Sampetoding Karangan. Says:

      Frans karangan memulai perjuangannya dari makassar bersama rekan rekannya dibawah pinpinan walter robert monginsidi gerilya kota, saat masih sekolah di sekolah belanda (di jl.Gunung bawakaraeng sekarang SMA 1 Makassar) lalu pulang ke toraja jadi guru di Sa’dan, kemudian di zaman jepang dia resmi jadi serdadu dan kemudian menjadi Anggota TNI setelah keluar dari hutan.

      • Petrus Salu Sampetoding Karangan. Says:

        Mesach Frans Karangan (ayah kami) bergama Kristen Protestan, it’s clear and no doubt jadi enggak mungkin jadi anggota DI/TII. mau lebih jelas tanyakan pada mereka yang pernah jadi penghuni asrama Toraja makassar, dalam kaitannya dengan pembakaran gereja di makassar dulu.

    • F Shinta A Karangan Says:

      Dear Saleko,

      Saya rasa Anda perlu byk bertanya dan mencari tau untuk sebuah sejarah besar. Negarapun mengakui perjuangan bokap alm. Tdk perlu ada statement yg mendiskreditkan seseorang dan memiliki tendensi yg tdk jls. Anda Kan tdk tau terbentuknya kompi Frans berapa besar materi yg di keluarkan alm secara pribadi.

      Jika masih ada masyarakat yg mayoritas dahulu tinggal dan hidup di rumah PAlupun saya rasa memahami dengan baik siapa alm Frans Karangan dan jasa baiknya sehingga ada sebutan ” Pena Melona Bp Frans Karangan”..

      Mungkin ini Sdkt yg dpt saya sampaikan. Seperti Padi semakin berisi, semakin merunduk..

      Thanks and GBU for ur life and family

      Rgds

      Shinta Karangan ( Putri bungsu alm Frans Karangan )

  24. christian andyka Londong allo Says:

    saya cuma menanyakan soaL opa saya yang bernama M.syarif londong allo. yang katanya dia komandan DI/TII…dan menyerah dan menjadi TNI itu saja apa benar..??terima kasih

    • saleko2011 Says:

      Bpk. christian a. londong allo yang terkasih didlm Tuhan.
      Apa yg bpk tanyakan itu blm ada jawaban yg tertulis diatas kertas, dlm artian cerita dari orang2 tua & nenek qta yg menjadi saksi sejarah wktu itu.
      Saya juga pernah mendengar cerita pembrontakan tsb dan kisah kepahlawanan? FK…Namun sedikit informasi..cerita ttg Londong Allo (komandn di/tii) lebih sering saya dengar dibanding cerita kepahlawanan seorang FK.
      Karena ada sesuai dgn yg saya dengar, cerita dibalik pemberontakan itu, ada seorang gerombolan yg Berkhianat krn mngalami Ketakutan terhadap TNI. Pengkhianatan dilakukan dgn memberikn info gerombolan ke TNI dan sang Pengkhianat terlibat langsung dlm penumpasan gerombolan tsb.
      Agar sang pngkhianat tdk malu ato tdk dimusuhi masyarakat ditoraja, maka dilakukanlah propaganda bahwa dia seorang pahlawan dan cerita pengkhianatannya dhilangkan utk diceritakn ke anak cucunya kelak.
      Makanya kisah ketokohan/kepahlawanan FK belum bisa dibenarkan.
      Ingat!!! di era orde baru byk terjadi penyimpangan sejarah dari kisah yg sbenarnya terjadi.

      • Petrus Salu Sampetoding Karangan. Says:

        Saya sebagai putra dari Alm. Mesach Frans Karangan, pada kesempatan ini mau menyampaikan terima kasih atas penghormatan terhadap ayah kami, dan di kesempatan ini juga saya mau katakan bahwa beliau (ayah kami) tidak pernah merasa sebagai pahlawan atau meminta untuk di jadikan tokoh oleh siapapun, jadi jangan ragu saudaraku karena kami sebagai keturunan langsungnya tidak pernah berupaya atau meminta orang untuk menjadikan beliau sebagai pahlawan.
        tetapi BAHWA beliau pernah hadir dan berjuang di berbagai tempat di SULAWESI tidak hanya di Tanah Toraja (tanah kelahirannya), itu memang kenyataan.
        LINUD 700 RIT, itu di bentuk dari pasukan yang di pimpin oleh frans karangan, mulai dari zaman mereka bergelirya di namai KOMPI FRANS (Frans Karangan di Toraja dulu di panggil Pak KOMPI di Wilayah Bugis orang mengenalnya dengan panggilan Ca’di Baji’), makanya LINUD 700 RIT sempat di julu8ki PASUKAN TORAJA karena sebagian besar anggotanya berasal dari Toraja.

  25. frans bararuallo Says:

    Pertanyaan ini ditujukan kepada siapa ? Ke kesatuan TNI ( ABRI ketika itu ?) atau kepada seluruh masyarakat Toraja. Mungkin bisa dicaritahu ke tempat atau departmen yang terkait langsung.

    Saya sendiri, secara pribadi, masih curiga bahwa penganut DI/TII di Toraja masih ada. Jadi masyarakat Toraja berkewajiban bersama untuk tetap berjaga-jaga agar tidak kecolongan suatu ketika nanti.

    Kalau memang sudah mencintai NKRI, kenapa harus ragu-ragu. Siaplah membelahnya sesanggup christian andyka Londong allo dan keluarga.

    Selamat membina persaudaraan dan kesatuan,
    frs

  26. Papua To Raja Says:

    usaha untuk mendokumentasikan salah seorang putra terbaik Toraja memang sebuah cita-cta mulia, sayangnya dalam artikel yang anda tulis tidak memperlihatkan kaitan erat antara tokoh Frans karangan dengan poses demokrasi yang menghasikan anggtota legislatif yang tak berkualitas. Mereka memang sama-sama berjuang untuk Toraja, namun dalam konteks dan waktu yang yang berbeda. Kalau anda menyebut anggota legislatif tak berkualitas, maka anda harus berani menunjuk orang yang anda maksud. Jangan ada menggeneralisasi. Saya yakin tidak semua anggota dewan di Toraja, maupun Toraja Utara sama seperti yang anda maksud di atas.
    Padamoto Kurre Sumanga’.

  27. frans bararuallo Says:

    Rasa-rasanya ada yang tidak nyambung. Satu bicara tentang kepahlawan (masa lalu) dan yang satu bicara tentang kualitas manusia saat ini (DPRD). Pahlawan ya pahlawan. Berarti sudah meninggal dan jasanya layak dikenang; sedang DPRD adalah sekelompok orang Toraja yang sedang berjuang untuk kemajuan daerahnya. Jadi masih hidup; belum boleh dinyatakan sebagai pahlawan. Kecuali jika ada anggota DPRD yang meninggal karena sedang memperjuangkan kebenaran dan nasib rakyat banyak dan sudah diusulkan dan dinobatkan sebagai pahlawan rakyat, maka ketika itu boleh disamakan dengan pahlawan.

    Mungkin yang terbaik adalah anggota DPRD mempublikasikan progran kerjanya sehingga para perantao Toraja memberi tanggapan dan masukan untuk membangun ekonomi dan wilayah Toraja. Bukan saling menyalahkan.
    Misalnya :
    (a) saya mengusulkan supaya DPRD se-Toraja mencari dana untuk memperaiki infrastruktur (jalan) sehingga Lovely December dan foreign tourists puas jika berkunjung ke sana. Aduh … jalanmu Toraja….. sungguh aduhai !
    (b) mengatur dan menyusun sistem penerbangan langsung dari dan ke Singapura, Manila, Bali, Jakarta, dan kota-kota lainnya agar ada sumber PAD yang baru. Sy dari Jakarta harus ke Kalimantan dulu baru ke Toraja (habisnya rute Mks – Toraja tutup).
    (c) tertibkan para guider agar informasinya tidak bias dan hidupkan kembali (revitalisasikan) lembaga adat untuk membangun jaringan pemerintahan yang dimengerti tobuda.
    (d), usul lain menyusul

    Kurre sumanga’
    frs
    (c).

    • Andreas Lallo Says:

      saya sangat setuju dengan usul frans bararuallo, terntang jalur penerbangan langsung keToraja dar seluruh daerah yang bisa menambah PAD sangtorayaan. untuk itu pemda TATOR dan TORUT hrs bisa kerja sama untuk menggalang dana pembangnan bandara di Mengkendek agar bisa terealisasi dengan baik. dengan demikian perantau bisa langsung ke Toraja tanpa buang waktu dan biaya tambahan, misalnya dari Kalimantan, Papua, Jawa dan lainnya. begitu juga bagi pelancong manca negara bisa langsung ke Toraja via Bali, dengan demikian duit bisa menanmbhan PAD lewat bayar visa mereka. Saya yakin kalau bandara di Mengkendek selesai dibangaun dan bisa didarati pesawat berbadan lebar, seperti Boing 737 damn sejenisnya, Toraja akan semakin ramai dikunjungi pelancong mancanegara dan lainnya.
      Padamoto dolo, kurre sumanga’ denno upa anna Puang Tontong urondongki’ sola nasang ! Amin.
      from : Andreas Lallo, Sorong Papua.

  28. asran irawan sanda Says:

    saya sempat mendengar cerita yang anda muat ini dari tua2 bekas eks tentara linud 700 yg sekarang berganti 700 raider tentang bagaimana perjuangan bapak frans karangan dan prajuritnya dalam melawan gerombolan pada waktu itu. bagaimana mereka berjalan kaki dari palu ke toraja untuk melawan gurilla istilah mereka pada waktu itu,bagaimana pemuda2 toraja di pangil untuk berjuang bersama bapak frans … dgan hanya bermodal kan nyali… karna menurut cerita mereka pada waktu itu senjata yang dipakai masih sangat sedikit jadi satu senjata untuk 4- 5 orang … atw kata lain satu mati yang lain mengambil senjata itu untuk di pakai…” coba anda cari tau di seputaran jalan perintis 18 makassar dan jalan telkomas makassar saya kira informasi itu anda bisa dapatkan ……!!! karna linud 700 bs yg sekarang 700 raider adalah batalyon yang dibentuk oleh pak frans karangan sekaligus beliaulah komandan pertama batalyon itu… “”

  29. Chosmos Salurante Says:

    Trus dimana peran dan keberadaan Alm. Manika Salurante dan Sanda Salurante pada saat itu ?

    • Untung Tipa Says:

      Sangsiuluran solanasang
      Saksi hidup pada masa pemberontakan pasukan Andi Sose saat ini masih ada hidup kebetulan orang itu adalah pembawah makan bagi para pejuang Toraya pada saat itu dimana pusat pertahanan dipusatkan di Tongkonan Nonongan saat itu

      • Untung Tipa Says:

        Saya kutip penuturan dari saksi hidup yang saya maksud diatas pada saat itu ada dua pilihan tempat untuk tempat pusat pertahan dalam perang tersebut yaitu di Makale dan Tongkonan Nonongan namun setelah selesai perundingan diputuskan untuk dipusatkan di halaman tongkonan Nonongan oleh para pa’baraninna Toraya antara lain ne’ Pappang, Ne’ Belo, Ne’ Frans Karangan, Ne’ Sanda Manika dan beberapa org lagi tapi saya lupa namanya yang pertama kali mattali tali mararang saat itu adalah Ne’ Belo Salurante dan dia juga yang menyampaikan pesan saat itu kepada orang – orang yang tinggal di sekitar alang – alang untuk meninggalkan tempat itu adalah beliau dengan alasan keamanan dalam pertempuran nantinya sehingga orang orang di Alang2 saat itu segera meninggalakn tempat itu setelah ada instruksi dari Ne’ Belo Salurante, saat itu ada beberapa meriam dipasang di halaman tongkonan nonongan. Yang di hadapkan ke Alang – Alang begitu kompoi pasukan andi sose sudah memasuki daerah Alang – Alang tembakan langsung dilepaskan dari Halaman Tongkonan Nonongan sehingga korban mulai berjatuhan, masyarakat yang tinggal di daerah Alang – Alang pada saat itu banyak yang menyumbangkan Babi peliharaannya untuk komsumsi bagi para pejuang saat itu.

  30. cosmas97 Says:

    Kapten Andi Sose adalah komandan Batalyon Infanteri 720/Wolter Monginsidi yang berkedudukan di Makale, Tator ‘ Lettu Frans Karangan adalah Komandan salah satu kompinya yang berisi mayoritas orang toraja,(kompinya frans karangan inilah yang menjadi cikal bakal Yonif 700 raider sekarang), sebenarnya ada unsur sara pada kepemimpinan Kapten Andi Sose pada waktu itu,yaitu cita-citanya meng’islamkan’ toraja, dan hal ini terdengar oleh Frans karangan,dan salah satu pemicu utama adalah rencana pembangunan masjid di tengah kolam Makale,sehingga terjadilah peristiwa itu,hingga akhirnya yonif 720/WM ditarik dari Makale Toraja

  31. cosmas97 Says:

    yth asran irawan sanda,yang anda dengar dari tua2 bekas eks linud 700 ttg perjalanan mereka berjalan kaki dari Palu itu benar sekali,kalau mau informasi lengkap lihat di sejarah satuan yonif 700,setiap satuan TNI punya buku sejarah satuan

  32. cosmas97 Says:

    Pahlawan Toraja Lainnya Mayor (Anumerta)Rukka AndiLolo komandan pasukan Anjing Laut yaitu pasukan TNI pertama di Makale,Toraja sebelum dikirim untuk menumpas RMS di seram,kapten Rukka gugur di P.Seram tanggal 1-5-1951 selengkapnya di http://manukallodanga.wordpress.com

  33. PARRANGAN SEPTIAN Says:

    dari sekian nama yg saudara sekalian sebutkan,kita tdk dpt mnampik sejarah bah tokoh terakhir yang melakukan pertempuran dengan pasukan andi sose adalah KOMANDAN PAPPANG dari pangala(RINDINGALLO),sbgai org pangala’ sy tau btl sejarah yg tmbuh dimasiarakat pangala’ bahwa semua daera toraja tlah mereka taklukan,mrka brmaksud berpestapora dilapangan(dpn makam pahlawan pongtiku sekarang).mrka tidak myangka misi mrka dipatahkan di jembatan mai’ting,.dmna saat itu sungai memerah darah dan berkat perlindungan TUHAN YME,hx 1 dr pihak kita yg gugur,.(ktrangan dr saksi hidup,,YS PONGSANDA)

  34. citra Says:

    yang dimaksud Frans Karangan itu siapa????apakah nek’Belo orang tondon????

    • Torajae Says:

      Sampeyan bodoh atau goblok???

    • Petrus Salu Sampetoding Karangan (alias Petruska Karangan) Says:

      Frans Karangan itu, nama lengkapnya Mesach Frans Karangan, komandan pertama LINUD 700 Riders (dulu RIT – Riders Indonesia Timur), bermarkas di daya – Makssar

  35. dani Says:

    Menurut cerita orang2 yg pernah melihat langsung kejadianx bahwa : pasukan a.sose paling banyak tewas di daerah pangala [di dekat jembatan sungai maiting] ketika bertempur melawan pappang,mandi sambara.dimana pada saat itu cmn daerah rindingallo yg tdk di kuasai oleh a.sose.

  36. bunayaz Says:

    Wah bagus ini… Sebagai orang toraja, epic kepahlawanan seperti ini jarang sekali terdengan lewat media kecuali lewat po’kada tomatua… Ada satu cerita yang sering saya dengar, terutama dari orang tua saya yaitu tentang kepahlawanan komandan pappang yang berhasil menumpas gerombolan andi sose di tana toraja… Sejatinya saya ingin mengatahui apa yang sebenarnya dilakukan andi sose di tana toraja…

    Kurre sumanga’..

  37. Otto Karangan Says:

    Yth Sdr/i Sangtorayaan dimana saja berada. . .

    Sesuai informasi yg saya dapatkan bahwa Alm. Frans Karangan anak buahnya banyak di Sul-Teng passnya di Palu . coba kalian tanya2 org toraja yg pensiunan TNI pasti mereka tahu isitilah Pene Melona Ne Pongkarangan (Alm.Frans Karangan), dan istrinya Frans Karangan masih hidup jd bisa dihubungi juga. Dan klw mau tahu juga masih ada sepepupu 1 x nya Alm.Frans Karangan di daerah Barana – Rantepao pass belakang SMA Barana namanya Nene Ruri (Perempuan) dia sudah tua, karena suaminya adalah Orang Jepang, dan ada anaknya satu dari Orang Jepang waktunya Jepang/Nippon masuk ke Toraja Ne Ruri nikah dengan Nippon.

  38. so' anu te... Says:

    fotonya mana gan….????
    jgn sampai hoax doank???

  39. ron Says:

    aq anak borneo darah sadan ,riu,lempo n pangrantae: aq ikut nimbrung,,,,,,sejarah ini tentang perang di toraja menurut bapak saya,bapak saya tugas di pare2 pada saat itu dan di panggil pulang bantu di toraja dan anak buahnya yg juga orang toraja dan sempat di hadang didaerah enrekang tapi lolos kalosi dan dia sebagai salah satu pelaku sejarah di toraja,sebenarx menurutnya terjadinya perang pertama di toraja tanggal 25 mei 1958 tentara di/tii masuk di toraja dgn dia ngkut 60 mobil dari makassar sekitar jam 5-6sore baku tembak di daerah sekitar sekolahan dekat pangrante dan pejuang toraja naik keatas daerah desa yg namanya lolai dan waktu itu belum ada pohon katanya tidak seperti sekarang waktu dia pulang ke toraja( sebenarnya aq tdk tau daerah yg namax desa lolai,karna itu menurut cerita bapak saya) sampai malam dan menginap diatas gedung sekolah pada saat musuh telah men dekat ke sawah di dekat sekolahan yg di lembah,,,dan terjadi perang kedua tanggal 2 juli 1958 sehari penuh,dan sempat baku tembak sampai ke daerah tandung la’bo di pertigaan antara jalan menuju buntao dan sangalla dan menawan 63 tawanan dan di arak lewat karassik ke rantepao dgn berjalan kaki & sepanjang jalan orang penuh dengan bersenjatakan parang dan tombak minta untuk di bunuh para tawanan tapi mereka tdk izinkan dan ditaruh di rumah sakit elim,itupun warga toraja masih kepung rumah sakit untuk di bunuh tapi para pejuang tdk izinkan dan lalu di kirim lewat palopo dgn menggunakan kapal ke makassar,,,,,,bapak saya menyebutkan beberapa teman seperjuangan yang dia ingat pada saat itu:komandan operasi ( komandan pappang dari pangngala),puang buntao( saya lupa namax),anak puang sangalla,kapala simbuang,alm.tongguru sulo dari riu yg katax baru selesai di pesta,kepala cpm letnan guling dan sempat tersermpet peluru,dan benar seperti yg dikatakan oleh saudara kita chosmos salurante, alm manika dan ne sanda dari tondon itu juga pejuang besar toraja (klu tdk salah bpk saya katakan ne sanda pada saat itu pangkatx letnan dan mereka sangat dekat dgn bapak saya) dan mereka siang malam selalu bersama sama.masih beberapa lagi yg saya lupa karna saya ketik ini dari kantor dan kebetulan buka situs mengenai sejarah toraja,,,, dan bapak sya katakan manika dan ne sanda to barani sma seperti nama nama saya sebutkan sebelumx diatas dan mereka berperang tidak pernah tiarap atau duduk dan selalu berdiri ketika berperang,,,,bapak saya masih hidup dan tinggal di balikpapan walau sudah sangat tua,,,dan dia masih ingat dgn jelas hari,tanggal peristiwa tersebut,,,,,,,( bapak saya di panggil ne tentara atau ne kapala dari sa’dan ulu salu) sebenarnya yg di ceritakan bapak saya masih banyak tapi saya tidak ingatsemua jd mohon di koreksi,,,,,,dan nama nama yg di sebutkan bapak saya diatas adalah tokoh tokoh yg selalu bersama sama siang malam sampai toraja menang dan tentara di/tii mundur kembali kemakassar dan sahabat seperjuangan bapak saya sudah byk yg tidak ada,,,dan umur bapak saya udh 80 tahun lebih dan masih hidup,,,,,dan skarang bapak saya di balikpapan tepatnya di gn bakaran sebagai ketua orang toraja gn bakaran & organisasinya bernama kombongan,,,,

  40. ron Says:

    saran saya sebagai anak toraja yg lahir dan besar di kampung orang,bagi saudara yg menyusun buku tersebut supaya mau mencari literatur & referansi yg akurat termasuk beberpa saran & masukan2 dari sangmanemu tee,torayana,frederik,chosmos salurante dll,,,,satu hal bukan berarti orang tua or nenek kita yg telah berjuang mo di anggap sebagai pahlawan atau di sanjung sanjung karna mereka berjuang dgn hati dan pikiran,,,,,satu hal yg pasti mereka cuma brharap agar apa yg mereka telah perjuangkan dgn segala pengorbanan baik nyawa,waktu dan keluarga yg mereka tinggalkan untuk tondok toraya malabi sang lepongan bulan tidak menjadi sia sia,,,,,,hanya itu,,,,,,,apalagi saudara2 kita yg tinggal di toraja yg sudah banyak SDM-nya melimpah ruah,,,,untuk tetap menjaga dan memperjuangkan kampung kita tercinta dgn berbagai cara sesuai tuntutan zaman skrg ini,,,,,,,torajaqu,,,,,,,,,,,

  41. ron Says:

    aq ank borneo (balikpapan )darah toraja dari sadan,riu,lempo & pangrante:menurut bapak saya sebagai pelaku sejarah yg terlibat peristiwa dan masih ingat dgn sgt jelas hari & tanggal peristiwa tersebut,sebenarnya toraja dgn DI/TII perang bukan thn 1959 tetpi pd saat di mulai pertama kali tanggal 25 mei1958,,pada saat itu bpk tugas di pare2 dan dipanggil pulang ke toraja beserta anak buahnya dan kakak saya yg masih kecil pada saat itu untuk bela kampung toraja dan sempat di tahan di daerah kalosi enrekang tapi mereka lolos,,,sampai di toraja,,,,,,tanggal 25 mei bapak bergabung dgn pejuang2 toraja dan peristiwa pertama,,,ada 60 mobil dari makassar yg mengirim pasukan DI/TII ke toraja,,,,,tanggal 25 mei 1958 sekitar jam 5-6 sore di perbatasan makale rantepao pasukan musuh telah masuk dan mendekat ke sungai dan sawah,,,dekat daerah pangrante,,,,,,pada saat itu pejuang toraja,naik keatas daerah desa lolai yg katanya pada saat itu masih belum banyk pohon tdk seperti sekarang waktu dia pulang ke toraja udah byk pohon di daerah trsebut,,,,,(sebenarnya aq tdk tau daerah yg namanya lolai,itu sumber dari bpk saya) sampai malam dan mereka menginap di sebuah bangunan karna pada saat itu sdh terjadi kontak senjata,,,peristiwa kedu terjadi tanggal 2 juni 1958 terjadi perang sehari penuh sampai di daerah pertigaan antara jalan menuju buntao & sangalla di desa tandung la’bo (mohon di koreksi klau salah nama desax ) di situ berkumpul komandan operasi ( komandan pappang dari pangala ) ne sanda dari tondon & manika,bapak saya,puang buntao dll,dan mereka berhasil mengepung & menangkap musuh menjadi tawanan sebanyak 63 orang dan diarak berjalan kaki ke rantepao melalui karassik & sepanjang pinggir jalan byk orang dgn senjata parang & tombak meminta untuk di bunuh tapi para pejuang tdk izinkan,lau di bawa ke rumnah sakit elim tapi juga masih di kepung warga pada saat pejuang istirahat dan makan dan minta di bunuh tapi pejuang toraja tidak izinkan karna kata mereka walaupun mereka musuh tapi mereka juga manusia & sudah menyerah & pejuang memperingatkan kepada warga utnuk tdk coba coba mengganggu atau melewati pagar rmh sakit elim,sehingga warga tdk berani menerobos masuk & demi keselamatan tawan mereka di kirim pulang melalui palopo ke makassar dgn kapal,,,,dan beberapa sahabat dekat dan seperjuangan bapak saya( bapak saya di panggil dulu dgn sebutan ne tentara or kapal dari sadan ulu salu dan masih hidup sampai sekarang dan umurnya 80tahun lebih) sangat berani semasa perang baik siang & malam anatara lain(yg sy tdk tulis tapi seorang pejuang karna sy tdk ingat semua yg di sebutkan bpk saya mohon maafx):komandan operasi( komandan pappang ),kapala simbuang,kepala cpm lentnan guling yg sempat terserempet peluru,puang buntao,anaknya puang sangala,tongguru sulo dari riu yg baru saja di pesta,manika & ne sanda dari tondon ( menrut bpk saya pada saat itu ne sanda pangkatnya letnan) dan betul yg dik atakan saudara kita chosmos salurante bahwa alm manika & sanda adalah salah satu tokoh pejuang besar tana toraja yg tdk boleh di lupakan jasax,dan mereka2 yg di sebutkan namax di atas ini klu berperang tidak pernah namanya tiarap atau berlindung tapi selalu berdiri menghadapi musuh,,,,masih bayk kisah yg di ceritakan bapak saya tapi saya tdk ingat semua karna saat saya ketik ini saya berada di kantor tempat saya bekerja,,,,,dan pejuang tana toraja,mereka tidak pernah minta untuk dipuja2 or di sanjung2 or pahlawan,,,,tapi satu hal yg mereka minta dan itu pasti yaitu:apa yg mereka telah perjuangkan untuk tondok toraya malabi sang lepongan bulan dgn mengorbankan nyawa,waktu & keluarga yg mereka tinggalkan ini tidak menjadi sia2 kawan,,,,,,,,,,,,,jadi tugas kita meneruskan berjuang dan menjaga tondok yg kita cintai ini sesuai dgn perkembangan zaman skrg ini apalagi saudara2 yg tinggal di toraja memiliki SDM yg melimpah ruah,,,dan saran dari sangmane tee,chosmos salurante,torayana dll tlg jg jd bahan pertimbangan,,,,saya sendri lahir dan besar di kampung orang ( balikpapan )& bapak saya masih hidup sampai skrg dgn umur 80 thn lebih dan jadi ketua kombongan,yaitu organisasi orang toraja di gn bakaran( balikpapan ),,,,kurre sumanga,,,tondokku toraya,,,,,,,,,

  42. ron Says:

    maaf saya koreksi beberapa tulisan saya setelah saya konsultasi dgn bapak saya,,,,jadi perang pertama di toraja thn 1958 pada tanggal 21 mei sekitar jam 5 sore di daerah sekitar mariri dan mereka berhadapan dgn tentara batalyon G dan mereka mundur sampai dekat lolai sampai malam,,,,,lalu perang kedua terjadi di daerah pangala dgn terbunuhnya pimpinan musuh yaitu org andalan andi sose yg bernama panada,,,,kemudian terjadi perang berikutnya di daerah tondon,,,,dan salah satu pejuang toraja saudara dari sanda yg bernama manika gugur,,,,,,lau perang ke empat terjadi daerah mariri kembali tanggal 2 juli 1958 dan terus menyebrang ke daerah yg bernama desa tandung la’bo di sekitar daerah pertigaan antara jalan menuju ke buntao dan sangalla,,,,,,ada satu peristiwa yg selalu di ingat pada peristiwa tsbut pada saat perang masih di daerah mariri,,,,,bapak saya dan komandan pappang beserta pejuang yg lainnya berperang,pada saat itu letnan pappang kehabisan amunisi karna beliau menggunakan senjata bren otomatis dan meminta peluru karna posisi beliau terdesak,,kemudian bapak menyuruh seorang ank muda yg berasal dari daerah baruppu dan baru saja menyelesaikan sekolah keguruan itu untuk mengantarkan amnusi ke letnan pappang karna ank muda tersebut mmg di tugaskn dan beberapa yg lainnya untuk khusus membawa peluru dan kebutuhan perang lainnya,singkat cerita ank muda trsbut ragu kemudian bpk saya setengah berteriak kpd ank muda tersebut untk membrikan peluru tsbt ke letnan pappang,barusekitar 2 atau 3 langkah ank muda trsbt terkena peluru tepat di sekitar kepala dan meninggal,,,,karena mreka marah lalu mereka mengejar musuh sampai ke daerah tandung la’bo dan musuh terpisah 2 dan ada yg lari ke arah daerah sangalla dan ada yg masih tinggal di sekitar tandung labo,dan mrk yg tinggal itulah yg mmenjadi tawanan sekitar 62-63 orag,dan ada bbrpa shabat bpk yg selalu bersama sampai daerah tandung labo anatara lain:komandan pappang,letnan kullu dari CPM yg terserempat peluru di sekitar telinga sebelah kiri dan kemudian bertukar senjata dgn bapak karna senjata yg beliau pake adalah bren otomatis untuk mengejar tentara yg 63 org tadi yg akhirnya menjadi tawanan,sanda dari tondon(kalau bapak memanggil beliau pong nona dan masih sempat bertemu dgn bpk ketika beliau ke balikpapan dan mereka sgt akrab),puang buntao namanya to kamba,ank puang sangalla,kapala simbuang mamasa dll……….setelah perang selesai thn 1959 mereka bentuk organisasi yg bernama barisan rakyat tana toraja dan berkantor di makale dan diketuai kepala penerangan yaitu ank puang sangalla dgn kepala staff letnan guling dan sekertaris bapak saya,,,,dan bapak saya bersama letnan guling sempat menjemput tentara yg menyerah bekas DI/TII di daerah mengkendek dan di bawa ke makale untuk di data ulang,,,itu sebagian sedikit cerita yg di ceritakan bapak ke saya yg saya ingat,,,,,,,dan saya menulis ini bukan memiliki tujuan tertentu,hanya berbagi kepada saudara saudara di blog ini,,,karna kebetulan saya membuka blog sangmane ini,,,,sekiranya ada kekurangan & keselahan dlm penulisan ini mohon maaf,,,,,dan tlg yg menyusun buku supaya mencari literatur & referensi yg tepat,,, seperti saran dari beberapa teman:sangmane tee,torayaan,chosmos salurante dll,,,,,kurre sumanga……

    • chosmos salurante Says:

      Suatu sejarah akan jelas apabila digali dari sumber2 yg netral…bukan dari sumber yang hanya menonjolkan Keakuanya.

    • Kamala Says:

      P’ ron yth.. Sy tdk trlalu trtarik dgn kisah kepahlawanan mereka.. Aplgi rencana pmbuatn bkux.. Yg bkl cendrng mengikat lantas menyesatkan.. Ataukh siapa diantara mereka yg benar dan terus berada d jalur.. Jk mereka pun kemudian d sebut pahlwn, lalu akan d golongkan sbgai phlawan apa!?
      D sini sy hanya minta bantuan bapak untuk menaxkan ke pd ayah bapak:
      1 nama temannya yg kepala simbuang?
      2 Apa yg terjadi sehabis perang? 3 kapan terakhir kali mereka bersama, atau mendengar kabar dari kepala simbuang tersebut?
      Terima kasih sebelumnya.
      sanak family tidak ad kabar yang pasti tentang beliau lebih dari 50 tahun.

  43. maxi Says:

    maaf,,,apa ada yg tahu riwat perjuangan pong kaluak’ sebelum masa penjajahan belanda&japang ???
    trimz

  44. Sangkinan Tua Says:

    mau tanya dimana peristiwa pengepungan tentara andi sose hingga mereka menyerah dan keluar dari tanah toraja ??????????????????????????????????………………….

  45. Sangkinan Tua Says:

    saya koreksi sedikit buat saudara ron… bahwa bukan disebut puang buntao tapi parengnge’ buntao’…

  46. Sangkinan Tua Says:

    saudara RON, coba tanyakan kepada bapak anda apakah bapak anda masih mengenal nama yang saya pakai ini ??????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????

    sebab dari cerita saudara RON pasti bapak anda ingat sekali dengan nama yang saya pakai ini salam hormat saya kurre….

  47. agung Says:

    masih ada pejuang melawan andi sose dl yg mungkin saudara belum knl tp dikalangan toraja barat dia dikenal,nmx Komandan Payung,mskpn pd saat itu bkn mrpkn anggota TNI tp msyarakat setempat memanggilx dengan sebutan komandan Payung,krn dia yg memimpin perlawanan gerombolan andi sose di toraja barat…..

  48. marthinus monod Says:

    Sanglat lebih afdol kalau mau membuat sejarah perjuangan rakyat tana toraja adalah tidak hanya sekitar wilayah sekitar makale dan rantepao tetapi seluruh wilayah kabupaten tana toraja ( toraja utara ) termasuk wilayah bagian barat kab. Tana toraja ( sekarang Kec. Simbuang, Kec. Mappak dan Kec. Bonggakaradeng ) , peristiwa thn 1958 sekitar kolam Makale ( kapala Simbuang /Rombelinggi dan anggotanya dgn gigih bertahan menghadapi pasukan Andi Sose ) dan kemdian di daerah Simbuang dan Mappak menghadapi DI/TI dan pasukan Andi Selle / Tentara 710 ( sebutan tentara Andi Selle ) yang mau menguasai wilayah tana toraja bagian barat. Jadi kalau mau buat buku sejarah perjuangan rakyat tana toraja lebih baik libatkan pemda tana toraja dan toraja utara. Yang menjadi pertanyaan maukah pemda tana toraja memberikan kontribusi dalam segala aspek. Karena pemda tana toraja sendiri tidak mampu membangun wilayah bagian barat tana toraja ( Kec. Mappak dan Kec. Simbuang ) yang masih sangat terisolasi dari infrastruktur jalan, padahal masyarakat simbuang dan mappak telah sangat gigih memperthankan keutuhan wilayah kab. Tana toraja, terbukti DI/TI dan Andi Selle/tentara 710 tidak berhasil menguasai tana toraja wilayah barat, dan saya masih ingat tahun sekitar tahun 1972 setelah aman maka datanglah dari kodim/kodam hasanuddin untuk menyita semua senjata senjata yang ada dimasyarakat Simbuang Mappak hasil dari rampasan pasukan 710 dan DI/TI, jadi sangat sangat setuju kalau mau buat buku perjuangan rakyat tana toraja, agar kita orang toraja semua mengetahui bahwa Kab. Tana Toraja bukan hanya Makale Rantepao ( wilayah timur dan selatan tana toraja ) yang diperhatikan untuk dibangun dalam segala aspek, tetapi juga wilayah barat tana toraja ( kec. Simbuang, kec. Mappak dan kec. Bonggakaradeng ) khususnya infrastruktur jalan.

    • Daniel Sulekale Says:

      Saya setuju dengan usulan Bapak Marthinus Monod ini. Secara pribadi saya ada nostalgia dengan Simbuang dan Mappak ini. Saya pernah jalan kaki dua hari dua malam melewati daerah ini dari arah Rantepao lewat Rantelemo, Appangbatu, dst, terus keluar di Nosu. Daerah ini indah sekali…. jangan sampai jatuh ke tangan siapapun kecuali tangan orang Toraja…..

  49. frans bararuallo Says:

    Sang torayaan yth,
    Kumpulan cerita keluarga bisa saja dijadikan bunga rampai atas kebenaran sejarah, asalkan sumbernya bisa dipercaya. Namun harus diingat bahwa setiap keluarga ini berada di tempat yang berbeda dengan peristiwa yang sama tetapi ada selisih waktu yang bisa menjelaskan kebenaran dan kadar cerita itu.

    Pertanyaannya : apakah perang 2 Juli 1958 itu berpusat di Rantepao atau di mana ? Jika tidak maka tentu ada kebenaran yang lebih dipercaya di tempat yang lain yang justru kebenaran itu lebih kuat dijadikan rujukan atas kebenaran sesungguhnya atas perang dua Juli 1958.

    Pertanyaan berikutnya : yang bercerita ini benar-benar ikut berperang atau hanya sebagai orang yang ketakutan ketika itu lalu lari megikuti musuh yang berlari ? Seingat saya, kata sebagian tokoh dari Sangala’, ada juga musuh yang terpukul mundur melintasi Sangala’ dalam jumlah yang cukup banyak. Melebihi angka 62-63 orang. Lalu mana yang harus dipercaya ?

    Pertanyaan selanjutnya : penulisan buku Frans Karangan sama sekali tidak bertujuan untuk mendewakan dia, tetapi hanya sebuah niat baik/luhur untuk membangunkan keterlenaan masyarakat Toraja hingga sekarang. Frans Karangan boleh dong dijadikan salah satu contoh “value creation” untuk membentuk culture value added (CVA) masyarakat Toraja agar bangkit kembali membenahi daerah dengannilai yang pas dengan dekadanya. Masakan orang Toraja beli sayur dari Kalosi, beli beras dari Mangkutana, dan Pasar Bolu dan Pasar Makale dikuasai pedagang dari luar ? Orang Toraja harus mampu menciptakan market value added-nya sendiri sehingga economic value added-nya bisa terukur.

    Pertanyaan saya : apakah Toraja bisa menjadi icon pendidikan tinggi di Indonesia termasuk icon ekowisata dunia ?
    Swiss bisa, kenapa Toraja tidak bisa >>>>>>>>>>>>>>>>> ????? No one can timing our life : we ourselves must determine it.

    Salama’ Toraya le’ka,
    frans b

    • to gantaran na' dikka . Says:

      Tabe’ lako kita mintu sansiuluran lan sang torayan , anna kuroki’ te’ barang apa ke la’bi meloia ke diroki tu kadanta lan basa toraya , anna tae to to diomai salian unnadu dombaki , na la’bi melo ke ma’basa toraya bangmiki na den misa’ kada lako mintu kita umbasai . Yattu kami , tolanna’ mai sangalla duka mentama tondok gantaran ( den tu disanga Batupapan ) , kitandai duka tu lalanceritanna tu Andi Sose’ sola Kahar Muzadkar , tomate nene’ku muane umpokadanna tonna taun 1989 – 1992 , tomate nenekku muane dikua tentara dukaia , apa nasolanni komadanna to jawa atas parentanna bpk m.jusuf male lako mangkasa’ disangapi tonna attu yato, dikua buda to’ toraya nampa pangsiung apa ya tonna sirari tau maleia membuni diolu boko , na manarang bangmi ma’kada totetomo kumua ya male sirari , na yattu sejaranna andi sose sola kahar musadkar na tandai dukaia nenekku baine ( totemo tuo siapa saba napoelo pa Puang Tomempata Yesu ) totemo torro dio sulawesi tengah ( mbai tae’ kulanpokadai umbanani tondok nani torro ), apa padamo to’ dolo , yanna den dikka salanna tu kadangki , pagarri mo kan dikka , Kurre sumanga’na lako mintu’na sang torayan .

  50. Petrus Salu Sampetoding Karangan (alias Petruska Karangan) Says:

    Senang membaca diskusi di blog ini. nama saya Petrus Salu Sampetoding Karangan, Putra ke 3 dari ayah (alm) Mesach Frans Karangan dan ibu Zara Sampetoding. berprofessi sebagai sutradara Film dan tinggal di Jakarta.
    saya tidak tahu apakah team penulis pernah bertemu dengan ibu saya yang sebenarnya memiliki banyak informasi tentang perjuangan almarhum ayah kami (kebetulan ibu kami berprofesi sebagai paramedis di pasukan, sebelum terjadi peperangan di Toraja dan ikut bergerilya semasa di Toraja dan juga saat pasukan/kompi Frans pindah ke Palu. Sulawesi Tengah),

    Juga beliau (ibu kami) tahu persis hubungan antara Frans Karangan dengan Kahar Muzakar maupun Andi Sose, karena sebelum memberontak Kahar Muzakar adalah seorang komandan Divisi (maaf kalau saya salah) dan Andi Sose adalah Komandan Batalyon, sementara ayah kami (frans Karangan) – Andi Lantara dan seorang lagi (saya lupa) adalah komandan komandan kompi. dan berkedudukan di daerah sekitar Kalosi/Enrekang waktu itu.
    Ibu kami (saya menyebut kami disini karena bukan cuma saya anaknya), sekarang sudah berusia 77 tahun dan tinggal di Jalan Sungai Tangka No.25 Makassar, beliau sehat dan masih ingat persis berbagai peristiwa di toraja, bahkan tempat tempat pertemuan (rapat rapat rahasia) di kota Rantepao di sekitar Malangngo’ dan juga route gerilya di Toraja.

    Ada beberapa photo yang mungkin bisa digunakan untuk melengkapi/illustrasi isi buku yang rencananya akan diterbitkan itu.

    Sayangnya berbagai jenis koleksi senjata ayah (termasuk yang yg ada ukiran initial namanya- jenis Owen Gun) dan ratusan senjata personil yang tersimpan di rumah sudah kami serahkan ke KODAM.

    salam

    • sangmane Says:

      Wow … saya sangat bangga bahwa pada akhirnya ada keluarga dari Bapak (Alm) Frans Karangan yang sudi memberikan komentar di blog ini. Jika berkenan, dalam kunjungan ke makassar minggu depan, kami akan mencoba untuk bisa bertemu dengan ibu Zara Sampetoding. Paling tidak bisa berfoto bersama dan mendengar sepenggal kisah dari orang-orang Toraja yg berjiwa besar.

  51. Petrus Salu Sampetoding Karangan (alias Petruska Karangan) Says:

    silahkan dan saya kira ibu saya dengan senang hati akan menerima anda, berhubung beliau sudah berumur 77 Tahun. maka ada baiknya anda telepon dulu ke rumah 0411-3617550 atau Hp adik saya Frenando Karangan : 08124255880.

    salam dari saya
    Petruska Karangan.

  52. Petrus Salu Sampetoding Karangan (alias Petruska Karangan) Says:

    Mungkin lupa alamat rumah orang tua kami,
    Jl. Sungai Tangka No.25 – Makassar

  53. Daniel Sulekale Says:

    Saya menikmati kisah sejarah yang masih terserak seperti yang diungkapkan berbagai pihak di atas. Ada di antara penutur yang saya kenal, teman lama. Kapan-kapan saya mau mampir. Buku yang mau ditulis Pak Frans Bararuallo itu sangat penting. Orang Toraja memerlukan suatu referensi masa lampau, lebih-lebih cerita heroik, agar tidak mudah kehilangan etos perjuangan menghadapi masa depan. Tokoh-tokoh seperti Frans Karangan, Pappang itu sudah lama juga saya dengar dari orang tua saya. Siapa pun yang mempunya informasi mengenai tokoh-tokoh tersebut mohon tampil di blog ini untuk melengkapi. Kami tunggu bukunya Pak Frans.

    Salam hormat,

    Daniel Sulekale

  54. frans bararuallo Says:

    Pak Daniel : buku yang dimaksud sy sudah bicarakan dgn salah seorang anggota keluarga almarhum via phone. Jadi mereka akan membentuk tim baru. Sy amat sangat setuju biar datanya lebih lengkap dan lebih informatif. Pesan sy : jangan terlambat selama Ny. Frans Karangan masih hidup.
    Jadi jangan tunggu sy yang akan menyelesaikan atau menerbitkan buku itu lagi. Sy sedang mengolah Passomba Tedong dalam tiga bahasa. Ini lebih penting bagi sy untuk disebar-luaskan karena ternyata kandungan mirip dgn isi Injil. Tujuannya sederhana : how to change the intangible assets to tangible assets. Ekonomi kreatif jadinya yang intinya mengangkat local heritage ke kanca ekonomi dunia dgn sandaran dan alur behavioral finance.
    Tks kasih Pak Daniel dan jangan marah kepada sy karena sy menjadi sule-kale (cepat mundur). Ok, see you.
    frs

  55. frans bararuallo Says:

    Pak Daniel Dalle’ : jangan pernah tanya kepada sy “sejauh mana ?” Jawabnya pasti sejauh mata memandang.
    Memang dulu, ketika di SMP dan SMA sy termasuk senang main bola kaki (foodball). Ketika itu sy tidak tahu klo pemain bola itu adalah pemain yang paling “bodoh dan tolol”. Dia yang menendang dan dia juga yang kejar sehingga klo bola sudah telanjur meluncur maka yang tersisa adalah kaki-kaki. Terpaksa sepakan harus menyambar kaki-kaki yang tersisa itu. Itu bisa terjadi karena rumus Fitagoras : di dalam segitiga…. kuaderat sisi miring sama dengan jumlah kuaderat sisi siku-sikunya. Berarti ada dua sudut yang nilainya 30′ bukan ?
    Pak Daniale akhirnya sy berhasil menulis buku sederhana tentang Toraja, yakni : Aluk, Adat dan Adat-istiadat (2007) dan Kebudayaan Toraja (2010). Buku ini kupersembahkan untuk daerahku : Tana Toraja (nama lama). Kini sedang merakit Passomba Tedong dalam Merauk (tiga bahasa).
    Pak Daniel : walau latar belakang pendidikan akuntansi dan keuangan tetapi waktu senggang sy, saya isi dengan rekaman budaya toraja. Prospeknya diulas dengan konsep Michael Porter, Igor Ansoff Matris, dan TOWS Analysis.

    Sampai jumpa : barar’

  56. Daniel Sulekale Says:

    Mantap ini bos FB. Menulis buku adalah pekerjaan heroik paling hebat karena meninggalkan suatu acuan informasi, nilai budaya, geografi, dll, bagi generasi mendatang. Terus terang saya merasa Toraja sekarang ini sedang mengalami kemunduran. Mudah-mudahan pengamatan saya keliru. Kita mengharapkan segera muncul generasi manusia Toraja yang hebat untuk membangun kembali pamor Toraja. Apa Pak FB pernah membaca hasil lokakarya “Toraya Ma’kombongan”? Saya pun sangat berharap ada orang Toraja yang tertarik menulis tentang Toraja dalam perspektif politik regional. Seperti apa petanya? Jangan-jangan buram. Tidak bisa lain, solusinya adalah lebih memberdayakan setiap insan Toraja.

  57. frans bararuallo Says:

    Saya rasa kita harus berani berhenti bermimpi dan mempopulerkan konsep-utopia kita sebagai orang Toraja dan mulai masuk ke ranah in-action. Mari kita melakukan introspeksi dan menanyai diri sendiri : apa yang telah saya perbuat secara positif untuk daerahku Toraja ?
    Semoga ada kesadaran bertindak secara konkret di masa yad.
    Salama’ : frans b

  58. Nobelita chrisma putri Says:

    sebagai orang muda yang minin akan pengetahuan sejarah, saya ingin bertanya Apakah Bapak Andi Sose juga adalah Pasukan DI/TII, sebab setau saya beliau itu merupakan pensiunan TNI dengan pangkat BRIGJEN ?

    • Petruska.Karangan Says:

      Pak.a.di.sose’ pensiun.dgn.pangkat kolonel, dia.masih hidup dan.hampir setiap.pagi.masih jalan.jalan.di.sekitar jalan.sungai.tangka di.makassar.:

  59. FINA Says:

    asik membaca cerita sejarah perjuangan Toraya mempertahankan harkat dan martabatnya melawan ,antara lain bagaimana itu Aluk Todolo ( Aluk Nenek), mempertahankan wilayahnya dari serangan penjajah, dengan maksud dan tujuan tertentu. Luar biasa semangat seperti itu ,akan tetapi adalagi cara baru yang sepertinya legal akan tetapi dibungkus politik ! .Yamotu kesepakatan memasukkan trasmigrasi ke Toraja. Kemudian pembanguna pariwisata Budaya ekonomi kreatif. Masyarakat yang punya budaya hanya jadi penonton.

  60. frans bararuallo Says:

    Ibu Fina , kalimat anda : Luar biasa ….. dibungkus politik! Sebuah pernyataan bersayap yang perlu diluruskan.
    > Semua pihak yang aktif berdiskusi di dalam forum ini adalah turunan orang Toraja yang masih memiliki perhatian besar terhadap kemajuan daerah asalnya.
    > Bagi sy =politik berarti : poli (banyak), oli (pelicin), dan itik (binatang yang sulit tenggelam bila masih hidup),
    > Transmigran di Torut sebenarnya sebuah hasil kamuplase masyarakat setempat. Keluarganya ada di Malaysia atau provinsi lain di Indonesia atau menikah dengan suku lain di Indonesia dianggap transmigran (ibu Fina bisa lakukan observasi langsung dan jangan hanya bicara dari jendela rumah anda)
    > Soal ekonomi kreatif bukan hal baru di Toraja. Tetapi …. munculnya para kreaktor baru di dalam sistem ekonomi tongkonan dan perekonomian daerah Toraja harus bisa dipuji kapan pun. Mereka ini sedang mencari bentuk terbaik untuk membenahi daerah dan bukan hanya modal omong dan kosong saja sepanjang masa.
    Sy wajib berteman dan bersahabat secara kental bagi sejumlah orang Toraja aktif menempatkan diri dalam zona kehidupan seperti itu.
    > Ibu Fina tahun lalu sy angkat bicara di twitter tentang kerusakan rumah di kandian dulang di rantepao dan ternyata sudah dipugar. Syukur ahamdulillah.
    > Kini sudah waktunya kita bentuk “Lembaga Adat” di setiap kecamatan untuk mendukung roda pemerintahan dan perekonomian lokal. Apa usul ibu mengenai hal ini ??? Kita tunggu usulan anda sesuai kondisi daerah asal anda di sono.

    Terima kasih : maaf sedikit merepotkan

  61. F Shinta A Karangan Says:

    Sayangnya sebuah perjuangan hanya sampai pada sebuah sejarah.

  62. frans bararuallo Says:

    Itu berarti umur manusia terbatas Shinta

  63. Didi londong allo Says:

    Sebenarnya puang limbu langi’di sangalla’mempunyai 4 anak yaitu puang londong allo,puang karurukan,puang loso’rinding;dan puang lai’sa’pang
    puang londong allo inilah yg nenek saya
    pada saat londong allo dewasa dia pergi ke ke’pe'(mengkendek)
    dan menikah dengan lai delo’dan melahirkan puang lai’londong allo yg menjadi anak satu satunya
    lai’londong allo mempunyai 2 anak yaitu puang lita dan puang kendek kapala
    setelah lama di mengkendek dan hanya mempunyai 1 anak maka puang londong allo menikah lagi di sangalla’dan melahirkan 4 anak yaitu puang sakka,puang indo’lai dan yg 2 saya tidak tau
    kemudia puang indo’lai melahirkan karaeng longdong allo
    yg biasa di panggil longdong allo
    sebenarnya Di/tii itu dikepalai oleh puang lita di mengkendek dan panglima perengnya sepupu dari puang lita puang karaeng londong allo yang sekarang masi hidup di batualu
    sekian dan terima kasih

  64. edi Says:

    di daerah pingiran toraja pun banyak pejuang-pejuang yg tidak terexspos……contohnya pejuang yg bernama LA.MANNAGA….beliau di beri gelar oleh raja-raja berjuluk anak laki-lakinya Angeraja karna kesaktiannya dalam setiap pertarungan dan beliau menikah dengan anak sorang Datuk dari Toraja…..dan memiliki beberepa anak salah satunya seorang tentara bernama SATU…di bawah pimpinan Andi Sose…….

  65. ron,, Says:

    salam sdr,chosmos,kamala,,
    apa yg saya ceritakan diatas mengenai hal/peristiwa yg terjadi di tondok mala’bi,yg saya dgr dr alm bpk saya yg baru saja meninggal, thn 20 mei 58 itu,,,bukan untuk tujuan apa2,,,,,kami yg berdarah toraja yg lahir dan besar di perantauan kan juga ingin tahu bgmn sih kampung yg indah ini,,,latar belakang dan sejarahnya,,,,jadi bukan sbg pengakuan untuk di nyatakan sbg pahlawan,,,( sya tegaskan,,,tdk ada untungnya sama sekali buat kami )dan kami yakin bgi org2 yg berjuang di masa itu,,,jg tdk pernah ingin di katakan sbg pahlawan,,,,,ingat pappang tidak berjuang sendiri atau hanya ber 5 orng atau 10,,,itu tdk mungkin dgn menghadapi pasukan di/tii,,pasti ada org laen yg ikut brjuang,,,,,bung logika harus jln,,,,dan saya pikir penulis di sini diawalx mengatakan butuh referensi/informasi mengenai peristiwa thn 58,,,tpi yg saya baca dri penulis,,,kurang bijak dan netral dlm hal ini,,,,,saya pikir setiap informasi itu kan bsa di saring,,,,,dan saya tegaskan (alm bpk saya)beliau tdk pernah bermimpi untuk mnjd pahlawan,,(kami keluarga besar dan khususx alm tdk untungx buat kami,karna kami hidup di rantau)agar di katakan segala tetebenge tttg kepahlawanan,,,
    sdr frans barraruallo yth,,,,,
    seperti tulisan anda,,,saya pikir sbg penulis mengenai peristiwa di toraja,,,saya pikir sgt tdk bijak ketika menyerang/menyudutjkan seseorang,,,,,yg menngatakan mungkin saja seolah2 dia hadir,,padahal mungkin dia lari bersembunyi,,,,,,,mungkin sebalikx itu anda,,coba instopeksi diri dlu bung,,,,,klu mmg betul2 mo dikatakan pejuang bgi org toraja,,jgn hanya di toraja coba juga perjuangkan org toraja di rantau,,,,,,,,sedikit saya ceritakan ,mgkin anda katakan saya sombong,but this is the fact,,,org toraja yg ada di kalimantan tmur salah satux di bontang,,,,bisa bersertifikat tanahx & tdk jdi di gusur berkat perjuangan alm & bpk marudara ke istana presiden,,ada bukti cendramaata dari istana berupa jam dinding,,,semua org toraja bontang tau,,,,siap[a ne kapala/ne kampung(alm bpk saya),di balikpapan bapak saya bersama org toraja di gn bakaran membangun gereja toraja,,ditentang sodara kita yg sama2 berasal dari sulsel(org2 bugis dan makassar)hingga alm. mau di culik agar tidak jadi mendirikan gereja,,ttp alm dan org tora disini melawan,,,bertaruh nyawa dan nyawa dan komandan koramil beliau usir dari gn bakaran karna tdk netral,,,,,catatan peristiwa itu ada di dokumentasikan gereja toraja balikpapan,,,salah satu gereja yg paling banyak tantangannya,,,,,dan sampai beliau wafat,,beliau masih ketua kombongan toraja gn bakaran,,,,,,klu belau pengecut sperti sod,,,,,tdk mungkin org toraja di sini memilihx,,,,,,,,,,saksi hidup disini satu kampung bung,,,,,,,bagamana alm. mo jd pengecut,,,,,,,sedangkan di peraantauan di berjuang untuk org toraja,,apalagi di toraja,,rumahnya sendiri,,,,,aneh,,,,yg bung katakan,,,anda pernah mendengar bahwa peristiwa 58,,itu pasukan dii/tii yg lari 62-63org,,,,katax anda punya sumber yg tepat,,,tapi ngelantur bung,,,,,logika anda dimna,,,bgmn bisa dlm posisi berperang,org bisa menghitung brpa yg lari,,,,,it;s hoak,,,,,klu yg di tangkap itu sekitar 64 org itu betul,,karna kita bisa tahu jumlah,,karena ada yg di tawan,,,sehingga bisa di hitung,,,lalu tawana di bawah kmn dan di perlakukan seperti apa,,saya yakin anda tdk tahu,,,dan setelah itu para pejuang ini kmn,,dan yg menjamu mereka makan sapa dan dmn,,dan siapa yg menjamu,,saya pastikan anda tdk tahu,,,,(anda bisa liat alm bapak saya di perlakukan seperti apa di perantauan ketika belau wafat oleh saudara saudra kami org toraja di sini bung,,,,salam,,,,,,,

  66. ron,, Says:

    saudara frans,,,,,
    bung lihat di youtube pemakaman ne kapala/ne kampung alm bpk saya )dan sahabatx ne sakkung dari madandan,,di balikpapan,,itu org toraja di rantau yg sayang dan peduli sama org toraja walau sdh hidup di rantau,,,,,,,,,,,,,,,,jesus bless we

  67. ron,, Says:

    sdr frans,,,,
    saya tambahkan,,,,,,,sebenarx sy tdk mau meributkan hal-hal sepele seperti ini,,,saya pertegas bung pasukan dii/tii yg lari bukan ke sangalla,,,tapi ke daerah tandung la’bo,,dan alm bpk saya dan sahabatx,,termasuk komandan pappang,,,,mengejar hingga di persimpangan antra la’bo dan sangalla di daerah tandung la,bo,,,,,,,dan di situ mereka berhasil menangkap sebagian pasukan dii/tii sekitar 64 org,,,,yg bersembunyi di dekat lumbung padi,dan mereka(pasukan dii/tii sempat memutilasi satu org toraja yg selama ini di jadikan tawana mrk,karena mrk pikir akan di bunuh oleh pejuang,,padahal pejuang toraja masih punya etika perang) dan merka di bawah melewati karassik,,,dan masyarakat tora sdh berkumpul di sepanjang jln sampai ke rantepao di dua sisis jln dgn memgang tombak dan parng dgn niat untuk menghabisi tawanan)tpi para pejuang toraja tdk meng izinkan,,,,,bung yg perang di toraja pejuang toraja yg berprofesi sbg tentara vs tentara ank buah sose dan sebagian org kita kan ada yg ikut gabung dgn mrka bung,,,,,,sebenarnya masih byk lg yg bisa saya sampaikan,,,tapi sia2 ja nantinya,,,awlx saya kan cuma numpang lewat di blog ini,danawal saya suka baca,,,,ini sgt mendidik,,,,,dan kebetulan sedikit hal yg saya dapat dari almarhum,,,saya sampaikan,,masalah bung percaya or no,,,tidak masalah buat saya,,,,,karna saya tdk punya tujuaan apa2,,,,,,dan alm bpk saya tdk pernah meminta untuk saya cerikan di sini,,,,,klu sahabatx sebayanya yg sama merantau di kalimantan tau beliaau bung jd jgn jd penulis klu belum siap untuk bisa menerima masukan,,,,,dan hanya langsung di muntahkan,,,,,,,,salam

  68. Anre Rerung Says:

    Sejarah tetap mempersatukan Toraja.Jangan goyah ” Misa kada dipotuo mantan kada dipomate “.

  69. ron,, Says:

    setuju my brother,,,,,,,sekalipun kita org torajalahir,besar dan merantau di kampung org,,,,,filosofi nenk moyang kita tetap di jaga,,,,karena filosofi misa kada di potuo,pantan kada di pomate,,itu yg membuat org toraja di kenal di tanah rantau,dan semakin berkembang pesat,,,terutama SDMx,,,so salam buat sodraqu org toraja di manapun berada,,,meoli komi pia,,aihihi,,,,,,

  70. Iwan Says:

    Sy mau nanya apakah ada dari saudara2 yg tahu tentang kakek kami yg bernama : Letnan Abdul Muin. Kami sebagai generasi ketiga tidak begitu tahu tentang kematian beliau tetapi beliau dikuburkan di makam pahlawan. Menurut cerita dari ibu kami yg masih kecil waktu itu Letnan Abdul Muin di bunuh oleh pemberontak. Dulunya kakek kami tinggal di jalan Singa no 9 Ujung Pandang/ Makassar. Meninggalkan seorang istri dan 6 org anak perempuan..Kirannya dari saudara2 ada yg tahu tentang kesatuannya atau kematiannya dalam membela tanah air,,,,,Salam

  71. Massolo Roy Says:

    yang saya tahu sebelum peristiwa DI/TII pak Frans Karangan merupakan Komandan Batalyon 758 yg bertugas di Palu dan Manado dalam tugas PERMESTA, kebetulan Alm.Bapak saya adalah salah satu dari sekian banyak pasukannya…kemudian beliau dan pasukannya ditarik ke sulsel setelah pecahnya DI/TIII di Luwu dibawah pimpinan Kahar Muzakkar…..setelah kondisi aman kemudian beliau dan pasukannya di tarik ke Makassar dan menjadi Komandan Batalyon 700 Raider yg sekarang dikenal dengan LINUD 700

  72. BULUARA' Says:

    Mantap!!!!!,,,,

  73. khidhir Says:

    ayah saya juga adalah pejuang yg terlibat dalam menghalang gerombolan adakah bapa kenal dengan sarjan mayor rosali mangkana dari batalion 725

  74. Daniel Rendeng | Galampang Says:

    […] pairs . Dalipang has a net worth of USD 4.7 billion . Fellow candidates from individual lines , Deka Paranoan stalking in the next sequence with a fortune of USD 4.2 billion . Vice- regent of other Papua , Frederik Batti Sorring ranks fifth . Sorring which still serves as […]

  75. frans bararuallo Says:

    Mr. Daniel : where did you get it this news ?

  76. toraja muda Says:

    Toraja muda,
    manika salurante, sanda salurante n pappang layak u mndpt pahlawan toraja,

  77. toraja muda Says:

    Toraja muda,
    klu mau tau persis peristiwa andi sose silkan tanya langsung kpda ne sanda salurante krn beliau masih hidup sekaligus beliua pelaku sejarah dilapangan,,,

  78. saladin Says:

    minta tolong ada yg bisa bantu mengenai asal usul kakek saya namanya mangiri entah itu marga ,karena beliau dipanggil dengan nama mangiri saja menurut beliau sebelum ajalnya dia berasal dari ulu sa,dan sebelumnya banyak terimakasi bagi yg tahu bisa kirim diemail.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: