Ada sebuah pemeo tua tentang bumi Toraja, khususnya Toraja Utara, utamanya Kesu’, yakni Pantanakan Lolo. Di dalam pantakan lolo ada slogan yang lebih tua lagi, yaitu laatallan rika bida. Di dalam slogan ini terpendam dengan kuat janji kesetiaan pada darah biru tetapi bukan sistem feodal ala kolonial belanda.
Lovely December, dalam rapat Akbar di Jakarta, lupa melirik kedua hal di atas sehingga kinerja Panitia Lovely December terkesan kurang sukses.
Mungkin untuk tahun 2011 dst, kepanitiaan jangan dirakit tersembunyi lalu dikemas terselubung dan kemudian dioperasionalkan secara paksa. Akibatnya bukan lovely tetapi it’s confussing and …… rejected every where.
Manasu mo?
Agak sulit bagi saya memahami istilah yang digunakan ini. Terutama karena pemahaman bahasa Toraja (sastra ) yang terbatas.
Apakah bisa dijabarkan lebih terinci info Rapat Akbar di Jakata itu? Apa hubungan dengan Panitia Lovely December (acara pemda dan provinsi)?
Faktanya: Untuk pertama kali dalam sejarah Lovely, htl, wisma di Toraja full, sepanjan December. Untuk pertama kali, reunian/natalan sekolah, gereja, kerukunan, pesta Rambu Solo’ diagendakan bersamaan sepanjang Desember.
Memang bersamaan dengan agenda Lovely Desember 2010 ada Pertemuan Akbar Perantau Toraja (PAPT) SUKSES mengampanyekan”pulkam bareng” melalui situs jejaring sosial Internet.
Kalau Anda pulang Kampung, jangan lupa mencermati apa ada nama Anda (kerukunan/komunitas) tercantum di pot-pot bunga unik di jalan2 utama Makale Rantepao. Buah dari ide brilian PAPT 2010.
Pendatang baru: Bulan desember kemarin, saya baleik ke Toraja, tetapi rasanya dan keliatannya, di mana mana sibuk, saya sie sebenarnya pulang dgn tujuan ketemu keluarga dan ikut PAPT, tapirumit sekali, keluarga adaain ngadain acara adat dan kerohahania, jadi ga sempat, berpartisipasi secara fisik, mana jalan lagi duch… lewat jalan yg begitu hancur, sakitnya seminggu, keblok lagi, he he… ..>>>
sambung: bingung juga sie; antara acara LOvely decembre dan PAPT, campur aduk kayanya nabrak sini nabrak sana, ya mixing up……Kesannya : Panitia lovely toraja kurang membuka ruang bagi PAPT dan pada kondisi lainya PAPT terkesan buru buru.( walaupun secara pribadi saya mendukung PAPT secara moral dan sedikit dana) karena, krna “Social Effectnya” begitu tinggi dan nyata!!!!
Lovely Decembre sendiri gimana ya ??? ( belum perna ngikutin sie!
Iya tu mi kua Ambe’, latallan rika bida’, bisa bangsia tallan bisa duka tae’ na tallan. Iya ke lino totemo na bida’ bang pa tu la na po pe ea tau kusanga masuli’2 mo lalanna.
Kalau bida’ terus yang mau di usut bisa2 kita jalan di tempat. Lihatlah orang2 yang ber-jerih-lelah di acara ini mungkin banyak diantara mereka yang bukan keturunan darah biru, ytaoi mereka telah memberi sesuatu untuk tondokna. Biar darah biru ke lan daka’ mannari inan melo do alang di setiap pesta, buat apa?
klo menurut saya, toraja lovely des… ut rencana ke depannya
lebih ke arah bagaimana membangun dan menumbuhkan , menciptakan usaha atau lap krja ut para pemuda di toraja.dgn demikian perekonomian akan maju di tana lepongan bulan.
Kapan ada nama seorang anak Toraja yang terpampang di tembok/beton jembatan salah satu kampung, kecamatan, atau di obyek wisata tertentu bahwa jembatan ini dibangun atas nama …., obyek wisata ini dibenahi dengan cucuran dana si ….., dst .. dst ???
Ini lebih berguna daripada nama di pot-pot bungan itu.
kurre
…. lovely december or lovely the money of lovely december from tourism department ?
….. boro-boro lovely december. rumah mini di atas dulang di perempatan jalan di kota Rpao sebagai cerminan seluruh wilayah Torut tidak kesentuh kebijakan bupati. Apa apa-an itu. Berapa sih biayanya ? Paling Rp 10 juta sudah menawan.
Patung Pong Tiku di sebelah barat rumah mini ini (pasar lama). Salah … salah tempat. Seharusnya di jembatan singki’. Aduh … hai …. para pejabat Torut. Otak jangan tempatkan di saku para aktor aluktodolo (pajak). Sy berada dan mutar-mutar di Toraja december lalu (2011). Kesannya, … tidak ada yang baru jika tahun 2009 dijadikan tolok ukurnya.
Kesannya siapapun yang menduduki kursi bupati sama saja. Mau yang kaya, miskin, turunan bulo dia’pa’, atau turunan tomakaka sama saja. Lebih baik pendatang (ingat Tampubolon dan Tarsis), bukan ?
13 January, 2011 at 7:18 am
Ada sebuah pemeo tua tentang bumi Toraja, khususnya Toraja Utara, utamanya Kesu’, yakni Pantanakan Lolo. Di dalam pantakan lolo ada slogan yang lebih tua lagi, yaitu laatallan rika bida. Di dalam slogan ini terpendam dengan kuat janji kesetiaan pada darah biru tetapi bukan sistem feodal ala kolonial belanda.
Lovely December, dalam rapat Akbar di Jakarta, lupa melirik kedua hal di atas sehingga kinerja Panitia Lovely December terkesan kurang sukses.
Mungkin untuk tahun 2011 dst, kepanitiaan jangan dirakit tersembunyi lalu dikemas terselubung dan kemudian dioperasionalkan secara paksa. Akibatnya bukan lovely tetapi it’s confussing and …… rejected every where.
Selamat tahun baru 2011,
frs
15 January, 2011 at 1:43 pm
Manasu mo?
Agak sulit bagi saya memahami istilah yang digunakan ini. Terutama karena pemahaman bahasa Toraja (sastra ) yang terbatas.
Apakah bisa dijabarkan lebih terinci info Rapat Akbar di Jakata itu? Apa hubungan dengan Panitia Lovely December (acara pemda dan provinsi)?
Faktanya: Untuk pertama kali dalam sejarah Lovely, htl, wisma di Toraja full, sepanjan December. Untuk pertama kali, reunian/natalan sekolah, gereja, kerukunan, pesta Rambu Solo’ diagendakan bersamaan sepanjang Desember.
Memang bersamaan dengan agenda Lovely Desember 2010 ada Pertemuan Akbar Perantau Toraja (PAPT) SUKSES mengampanyekan”pulkam bareng” melalui situs jejaring sosial Internet.
Kalau Anda pulang Kampung, jangan lupa mencermati apa ada nama Anda (kerukunan/komunitas) tercantum di pot-pot bunga unik di jalan2 utama Makale Rantepao. Buah dari ide brilian PAPT 2010.
Salama’
stephen
17 January, 2011 at 5:54 am
istilah umbanna to misangan pa’ steph ? kurre
11 February, 2011 at 8:44 pm
Pendatang baru: Bulan desember kemarin, saya baleik ke Toraja, tetapi rasanya dan keliatannya, di mana mana sibuk, saya sie sebenarnya pulang dgn tujuan ketemu keluarga dan ikut PAPT, tapirumit sekali, keluarga adaain ngadain acara adat dan kerohahania, jadi ga sempat, berpartisipasi secara fisik, mana jalan lagi duch… lewat jalan yg begitu hancur, sakitnya seminggu, keblok lagi, he he… ..>>>
11 February, 2011 at 8:54 pm
sambung: bingung juga sie; antara acara LOvely decembre dan PAPT, campur aduk kayanya nabrak sini nabrak sana, ya mixing up……Kesannya : Panitia lovely toraja kurang membuka ruang bagi PAPT dan pada kondisi lainya PAPT terkesan buru buru.( walaupun secara pribadi saya mendukung PAPT secara moral dan sedikit dana) karena, krna “Social Effectnya” begitu tinggi dan nyata!!!!
Lovely Decembre sendiri gimana ya ??? ( belum perna ngikutin sie!
12 February, 2011 at 4:58 am
Iya tu mi kua Ambe’, latallan rika bida’, bisa bangsia tallan bisa duka tae’ na tallan. Iya ke lino totemo na bida’ bang pa tu la na po pe ea tau kusanga masuli’2 mo lalanna.
Kalau bida’ terus yang mau di usut bisa2 kita jalan di tempat. Lihatlah orang2 yang ber-jerih-lelah di acara ini mungkin banyak diantara mereka yang bukan keturunan darah biru, ytaoi mereka telah memberi sesuatu untuk tondokna. Biar darah biru ke lan daka’ mannari inan melo do alang di setiap pesta, buat apa?
24 February, 2011 at 5:18 am
klo menurut saya, toraja lovely des… ut rencana ke depannya
lebih ke arah bagaimana membangun dan menumbuhkan , menciptakan usaha atau lap krja ut para pemuda di toraja.dgn demikian perekonomian akan maju di tana lepongan bulan.
16 March, 2011 at 7:28 am
Kapan ada nama seorang anak Toraja yang terpampang di tembok/beton jembatan salah satu kampung, kecamatan, atau di obyek wisata tertentu bahwa jembatan ini dibangun atas nama …., obyek wisata ini dibenahi dengan cucuran dana si ….., dst .. dst ???
Ini lebih berguna daripada nama di pot-pot bungan itu.
kurre
23 March, 2011 at 6:55 am
oh sangmane-maneku mangapakomite n apa kareba solanasang
9 February, 2012 at 3:39 pm
…. lovely december or lovely the money of lovely december from tourism department ?
….. boro-boro lovely december. rumah mini di atas dulang di perempatan jalan di kota Rpao sebagai cerminan seluruh wilayah Torut tidak kesentuh kebijakan bupati. Apa apa-an itu. Berapa sih biayanya ? Paling Rp 10 juta sudah menawan.
Patung Pong Tiku di sebelah barat rumah mini ini (pasar lama). Salah … salah tempat. Seharusnya di jembatan singki’. Aduh … hai …. para pejabat Torut. Otak jangan tempatkan di saku para aktor aluktodolo (pajak). Sy berada dan mutar-mutar di Toraja december lalu (2011). Kesannya, … tidak ada yang baru jika tahun 2009 dijadikan tolok ukurnya.
Kesannya siapapun yang menduduki kursi bupati sama saja. Mau yang kaya, miskin, turunan bulo dia’pa’, atau turunan tomakaka sama saja. Lebih baik pendatang (ingat Tampubolon dan Tarsis), bukan ?
Masirikki’ tulantengkai lamunan lolota Toraya ….. !!!!
Kurre lako kita solanasang,
frs