Sejarah Pergerakan Pemuda Toraja – sebuah permenungan


oleh :

Mozes H Baottong,

lahir dan besar di Toraja, tinggal di Jakarta

Before the Indonesian Independence

Kalaoe di Indonesia kita soedah sering mendengar Boedi Oetomo, Perhimpoenan Indonesia, dan berbagai pergerakan pemoeda lainnya. Maka sebenarnya Pemoeda Toraja tidak tinggal diam.

Kedatangan Belanda ke Toraja telah memberikan pencerahan kepada pemoeda lokal, sehingga disekitar tahoen 1920-an, terbentoeklah Perhimpoenan Boenga’ Lalan (PBL) .

“PBL reconstituted itself in Rantepao out of the cold ashes of its brief incarnation in the mid 1920-s.  Its revival in 1934 by some senior Torajan teachers reflected changes that had penetrate Makale-Rantepao over the previovs decade.

PBL has no other purpose and goal than the desire to advance the Toraja people and land … which are still in darkness.”

Selain PBL ada jg Perserikatan Toraja Kristen (PTC) yang dibentoek oleh sekitar 10 orang lulusan HIS dari Palopo. Tujuan dibentuknya PTC adalah untuk membentuk asosiasi yang akan ” …. mempersatukan orang-orang Toraja yang masih terpisah”.  Basis dari persatuan ini adalah identitas etnik yg kuat (strengthened ethnic identity) baik yang tinggal di Toraja maupun yg ada di luar Toraja.

PTC dalam berbagi kegiatannya telah berhasil mendorong terciptanya Toraja yang bebas dari wilayah administrasi Luwu. Ini adalah keberhasilan besar dari sebuah pergerakan, yg mana cita-cita ini telah diperjuangkan oleh Pong Tiku sekitar 40 tahun sebelum adanya PTC.

Rongre, salah satu pemimpin di PTC, berhasil menjadi the first Torajan to head the government of Tana Toraja after Indonesian Independence.

After the Indonesian Independence

Pada awal kemerdekaan, muncul pemberontakan Kahar Muzakkar dan Andi Sose di Sulawesi Selatan. Pemberontakan ini – yg biasa disebut saman gurilla –  membawa dampak sangat buruk bagi kehidupan masyarakat.  Nenek saya sering bercerita bahwa semasa gurilla mereka harus keluar masuk hutan karena dikejar2 oleh Tentara Andi Sose. Ada yg disiksa, dibunuh dan diperkosa.

Ditengah kemelut yg tidak menentu, hadirlah Frans Karangan bersama dengan teman2 sesama pemuda Toraja untuk membela harga diri orang Toraja yang seperti terinjak-injak.

Frans Karangan – born from educated father and had attended the Mulo in Makassar – and other young Toraja in Makassar and elsewhere in Toraja were looking for an opportunity to gain some self-esteem and experience  to face the new political world that has forming around them in 1950.

Karangan and ten fellow students joined the “Battalion Pong Tiku” which was one of the units of guerillas and founded by Samuel Tambing, a former soldier with the KNIL.

Battallion Pong Tiku was an important vehicle of nationalism of these youths.

Frans Karangan dan rekan-rekan pemuda yang juga ternyata didukung oleh thousand villagers berhasil memukul mundur Pasukan Andi Sose keluar dari Toraja.

Keberhasilan ini memberikan kebanggaan, mengembalikan harga diri , dan kesadaran etnis (ethnic consciousness) kepada orang-orang Toraja saat itu.

Bagiamana dengan Sekarang ??

Betul,  Toraja sekarang memang baik-baik saja. Masyarakat hidup dengan aman, damai dan bebas beribadah. Namun itu bukan berarti kita harus tinggal diam dan tak peduli.

Dalam 10 tahun terakhir, kita melihat bahwa tidak ada perkembangan yang begit berarti di daerah Toraja. Indikasi korupsi di Pemerintah Daerah berhenti begitu saja dan tidak diproses lebih jauh. Aparat Pemerintah Daerah tidak memperlihatkan peningkatan kinerja.Toraja memang sudah terbagi dua, mungkin disayangkan, tetapi biarlah kita lupakan saja.

Bukankah nasib saudara-saudara kita, kita sendiri akan seharusnya lebih baik jika tidak ada para pengecut dan penghisap darah saudaranya ? Lihat apa yg telah dilakukan Pong Tiku,Rongre, Frans Karangan. Dan bandingkan dengan anggota DPR kita sekarang, Pemerintah kita sekarang ?  Tentukan pilihanmu sekarang ….. !

Sekarang adalah memfokuskan diri ke PILKADA Bupati Toraja dan Toraja utara di 2010. Pemuda hendaknya turut membantu menciptakan terpilihnya Pemerintah yang bersih, dengan program yang jelas, serta mampu melaksanakan tugas kelak.

Maju terus pemuda Toraja … !!!

 

salam,

Mozes

8 Responses to “Sejarah Pergerakan Pemuda Toraja – sebuah permenungan”

  1. trusted ptc Says:

    ini merupakan sejarah yang perlu terus diwariskan kepada setiap generasi agar mereka tidak melupakan jasa para pahlawan yang telah berjuang untuk kemerdekaan..

  2. zwingly Says:

    Halo kawan lama….
    Punya ga’ buku : A social history of “Tana Toraja” 1870-1965. By Terance William Bigalke…ataw pernah lihat di toko buku ???…

    • sangmane Says:

      Alo Zwingli … kawan lamaku di SMANSA MAKASSAR ?

      Yah saya kemarin ada bukunya yang warna hijau kan ?

      Tapi ada orang Toraja yang pinjam. Cewek tinggal di Bekasi, Sampai sekarang gak dibalikin bukunya.

      Ko tinggal dimana sekarang ? Salam, Mozes

  3. cosmas97 Says:

    Salam sangmane,Pernah dengar Mayor Rukka Andi Lolo?Pejuang dari toraja di jawa timur pada masa perang kemerdekaan 1945-1949 dan gugur dalam menumpas Gerakan RMS di pulau seram 1950-1951,makamnya sekarang ada di Taman Makam Pahlawan Kapahaha Ambon,lengkapnya ada di http://www.manukallo.wordpress.com

  4. frans bararuallo Says:

    Oia ….., ini cerita yang bagus diwarisi. Namun ….., aku baru pulang dari Toraja awal 2012. Dulu …., ketika saya masih sekolah di Makassar (SMP, SMA, dan S1), ada sebuah bangunan tongkonan mini dibangun di perempatan kota Rantepao. Indah sekali ketika itu. Tetapi …. tetapi kemarin saya lihat (ada fotonya dari empat arah) tidak enak dipandang mata. Apalagi disentuh dengan hati nurahi. Betul …. juga ya, pemerintah dan DPRD kerja apa ya ???

    Di Toraja selatan kolam di tengah kota Makale terurus. Sebelah utaranya ada Kafe. Bisa nongkrong minum Torabika (Arabika Toraja). Ini dia sang pencipta merk dagang yang anggun dan harum namanya. Di seblah timurnya ada gereja Katolik yang berdiri megah menjurus arah utara – selatan, seperti halnya tongkonan (rumah adat). Namun sebelah Barart-barat lautnya ada bangunan aneh deh. Tidak terurusnya. Bentuknya sih tongkonan, tetapi tampilannya bagaikan rumah hantu (banua totosik). Seeeeraaaam deh. Banua totosik.

    Sudah deh, seraaam, salam kagum saya.

  5. frans bararuallo Says:

    Syukuuuuuurrrrrr. Kritikan saya di sini sudah berhasil merubah kedua sorotan hati saya. Bulan kemarin kedua gedung yang saya sebut di atas sudah dalam keadaan baik. Terima kasih Bupati Sorring dan Bupatai Tana Toraja. Wajah berubah karena taman hati diubah.
    Salam pembangunan Toaraja,
    frs b


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: