Indonesia : Toleransi antar Umat Beragama sangat Dangkal


CHRISTA, 64 tahun, melirik jam dinding rumahnya. Ini malam Natal. Seperempat jam lagi ibadah refleksi di Gereja Kristen Indonesia Taman Yasmin Bogor, Jawa Barat, dimulai. Dari rumahnya di salah satu sektor perumahan itu ia cuma perlu sepuluh menit jalan kaki. “Saya sengaja pilih rumah di Taman Yasmin karena sejak awal mendengar akan ada gereja di sini,” kata perempuan yang tinggal di kompleks itu sejak tujuh tahun lalu.

Malam itu Christa sedikit cemas menghadiri ibadah pukul delapan malam. Pengurus gereja mewanti-wanti kemungkinan datangnya pengunjuk rasa. Gereja Yasmin memang beberapa kali didemo massa yang menentang pembangunan tempat ibadah itu.

Sudah delapan bulan gereja itu disegel Pemerintah Kota Bogor. Saban Ahad pukul delapan pagi, jemaat beribadah beralaskan tikar di trotoar depan gereja. Oktober lalu, Christa bercerita, ibadah baru dimulai setelah pengurus membersihkan trotoar yang basah terkena pecahan telur busuk.

Sesampainya di gereja, Christa kaget melihat kerumunan orang. “Ada banyak polisi dan panser,” katanya. Mengikuti pesan pengurus gereja agar tetap tenang, Christa, yang datang sendirian, menarik napas. Ia lalu menembus kerumunan dan ikut ibadah.

“Bubarkan! Bubarkan!” Teriakan itu terus diulang-ulang pendemo ketika jemaat beribadah. “Kalau kami mulai bernyanyi dan berdoa, teriakan itu semakin keras,” kata Christa.

Sejak sore pengurus gereja sudah ditelepon kepolisian agar tak mengadakan ibadah Natal di Gereja Yasmin. Saat tenda mulai didirikan di trotoar, polisi kembali mengingatkan agar ibadah dibatalkan saja.

Menjelang sore, sepuluh perempuan unjuk rasa. Sempat bubar, selepas magrib mereka kembali bersama lebih banyak orang. Melihat pengunjuk rasa berlipat ganda, kepolisian mendatangkan pasukan Korps Brigade Mobil, yang datang membawa dua kendaraan antihuru-hara Barakuda dan dua unit kendaraan bermeriam air.

Pendemo terus merangsek hingga tiga meter dari tenda. “Pendemo sangat dekat dengan tenda, tapi ibadah tetap dilanjutkan,” kata Christa. Ibadah Natal pada Sabtu itu akhirnya selesai pukul sembilan malam. Christa pulang sembari bertanya-tanya, akankah ada ibadah Minggu keesokan harinya di sana.

l l l
GEDUNG beratap merah itu belum berpintu. Dindingnya belum sempat dicat. Alang-alang meninggi di halaman seputar bangunan. Tak seperti beberapa gereja yang diprotes karena berada di dalam kompleks perumahan, Gereja Taman Yasmin berada di luar kompleks, di pinggir sebuah jalan besar. Di dekatnya berderet perkantoran pemerintah dan swasta. Di antaranya gedung pemasaran perumahan tersebut, gedung pertemuan Harmony, kantor redaksi harian Radar Bogor, dan Rumah Sakit Hermina.

Menurut anggota tim media dan pengembangan jaringan Gereja Yasmin, Bona Sigalingging, gerejanya anak gereja induk di pusat Kota Bogor. Seiring dengan menjamurnya perumahan di Bogor barat, jemaat gereja yang tinggal daerah itu terus bertambah.

Perumahan Taman Yasmin dipilih sebagai lokasi gereja karena pengembangnya sepakat memberikan lahan fasilitas sosial di Sektor 5. “Setahu saya setiap pembeli rumah di sektor itu diberi tahu akan ada gereja,” kata Bona.

Ternyata di lahan fasilitas sosial yang dijanjikan itu lebih dulu dibangun masjid. Pengurus gereja akhirnya membeli tanah di sektor lain. Mereka bertemu dengan masyarakat Kelurahan Curug Mekar, karena Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri mengharuskan ada izin masyarakat sekitar sebelum membangun rumah ibadah.

Pada Maret 2002, sekitar 170 orang meneken surat tak keberatan terhadap pembangunan gereja. Setahun setelah itu, pengurus gereja bertemu lagi dengan warga Curug Mekar. Dalam pertemuan itu, forum pemuda Curug Mekar setuju Gereja Kristen membangun rumah ibadah di Taman Yasmin.

Dua dokumen itu dilampirkan pada saat mengurus izin mendirikan bangunan ke Pemerintah Kota Bogor pada 2005. Izin keluar setahun kemudian. Gereja merayakannya dengan acara peletakan batu pertama. Wali Kota Bogor Diani Budiarto menitipkan sambutan tertulis kepada anak buahnya agar dibacakan dalam acara tersebut.

Pada 2008 bermunculan unjuk rasa menentang pembangunan gereja. Forum Komunikasi Muslim Indonesia mengatasnamakan warga Perumahan Taman Yasmin, juga dari Kampung Curug Mekar, Kampung Cijahe Wangkal, dan Kampung Bojong, unjuk rasa.

Ketua Forum Ahmad Iman menjelaskan, kelompoknya menggugat izin gereja yang mereka anggap tak disetujui warga sekitar. “Banyak warga yang tanda tangannya dicatut,” kata Iman, yang tinggal di Taman Yasmin Sektor 6. “Saya takut ada kristenisasi,” kata Muhammad Sani, 59 tahun.

Sani, yang tinggal Kampung Curug Mekar, berkali-kali mendemo gereja karena merasa namanya dicatut dalam surat dukungan pembangunan gereja. Ia dicibir tetangga karena dianggap menyetujui gereja. Sani membenarkan sempat diundang sosialisasi pembangunan gereja. “Jadi saya teken daftar hadir, bukan persetujuan pembangunan gereja,” katanya.

Gencarnya tuntutan membuat Pemerintah Kota Bogor membekukan izin pembangunan Gereja Yasmin pada Februari 2008. Gereja menggugat surat keputusan pembekuan itu ke Pengadilan Tata Usaha Negara di Bandung. Pengadilan mengabulkan tuntutan gereja. Selain menyatakan izin gereja sah, pengadilan meminta pemerintah kota membatalkan pembekuan izin.

Pemerintah Kota Bogor meminta banding ke Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara di Jakarta. Lagi-lagi pemerintah kota kalah. Tak menyerah, kasasi pun diajukan ke Mahkamah Agung. Namun Juni tahun lalu Mahkamah menolaknya karena dianggap tak memenuhi syarat akibat surat keputusan hanya bersifat lokal di Bogor. Terhadap putusan itu, pemerintah kota mengajukan peninjauan kembali, yang hingga kini belum keluar putusannya.

Sumber-sumber Tempo menyebutkan sikap keras pemerintah kota menyegel Gereja Yasmin tak lepas dari urusan politik. Ketika izin membangun gereja dibekukan pada 2008, Bogor sedang bersiap menggelar pemilihan wali kota secara langsung untuk pertama kalinya.

Diani Budiarto maju berpasangan dengan Achmad Ru’yat. Keduanya diusung Partai Keadilan Sejahtera, Partai Golkar, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, dan enam partai kecil yang tak punya kursi di Dewan Perwakilan Rakyat. Hasil penghitungan suara pencoblosan 25 Oktober 2008, Diani-Achmad memperoleh suara terbanyak dan menjabat hingga 2014.

Asisten Tata Praja Sekretaris Daerah Kota Bogor Ade Syarif membantah sikap pemerintah kota berpangkal pada urusan politik. “Tidak ada kaitannya dengan politik. Ini murni soal hukum,” ujarnya.

Ade mengakui pemerintah kalah di pengadilan lantaran pembekuan izin gereja tak sesuai dengan prosedur. Seharusnya pemerintah kota melayangkan surat peringatan terlebih dulu, lalu gereja diberi kesempatan mengklarifikasi. “Tapi ini langsung saja membekukan, karena itu kami kalah,” ujarnya.

Menurut Undang-Undang Mahkamah Agung, pelaksanaan putusan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara mestinya tak perlu menunggu hasil peninjauan kembali. Namun Ade berkilah pemerintah kota khawatir kericuhan muncul jika pembekuan izin dicabut sebelum ada kabar dari Mahkamah. “Kami ingin situasi Bogor tetap aman,” kata Ade.

Ade meminta pihak yang pro maupun kontra-pembangunan gereja menunggu hasil peninjauan kembali dari Mahkamah Agung. “Proses hukum masih berlangsung, kita hormatilah,” ujar Ade.

Pengurus gereja berpendapat berbeda. Mereka merasa putusan sudah berkekuatan hukum tetap. Karena itu, mereka berencana memakai gereja. Ketika mengangkut kursi masuk ke gereja pada April lalu, Forum Komunikasi Muslim datang bersama Polisi Pamong Praja. Hari itu juga pagar gereja digembok. Dibentangkan juga spanduk putih dengan huruf biru besar: DISEGEL.

Bona Sigalingging menceritakan, sejak digerendel itu ibadah dipindah ke trotoar di depan gereja. “Kami merasa berhak beribadah di sana karena sudah memenuhi semua prosedur pengurusan izin,” kata Bona. “Kami tidak akan mundur karena posisi hukum kami kuat.”

Sebaliknya, Forum Komunikasi Muslim pun berkeras melarang ibadah selama belum ada putusan dari Mahkamah. “Kalau Mahkamah memenangkan gereja, kami masih bisa menggugat pemerintah dan gereja ke pengadilan,” ujar Iman.

Kasus hukum izin gereja pun mulai beranak-pinak. Pengadilan Negeri Bogor tengah bersidang soal dugaan pemalsuan tanda tangan persetujuan membangun gereja. Lalu masih ada sidang kasus penganiayaan Ujang Sujai, kuasa hukum gereja, oleh massa penentang pendirian Gereja Yasmin. “Kami melihat ada upaya hukum berlapis supaya masalah ini berlarut-larut,” kata Bona.

l l l
SEHARI setelah Natal, sekitar pukul tujuh pagi, satu per satu anggota jemaat Gereja Yasmin datang untuk ibadah Minggu. Seratus meter dari gereja, mereka terkejut. Blokade polisi di Jalan KH Abdullah bin Nuh belum dibuka. Puluhan polisi masih berjaga. Tak satu pun jemaat diizinkan mendekati gereja. Pendeta Ujang Tanusaputra akhirnya memimpin doa singkat di jalan raya.

Malam sebelumnya, sejumlah aparat keamanan sempat menemui pengurus gereja. Mereka minta tak ada lagi ibadah di trotoar Taman Yasmin. Menurut Bona Sigalingging, gereja menolak dan memilih tetap beribadah di sana. Hingga kini Bona belum bisa memastikan soal ibadah gereja itu selanjutnya.

Kisruh itu membingungkan jemaat. “Izin sudah ada, tapi kami tetap tak boleh beribadah,” kata Christa. “Saya sedih sekali.”

Oktamandjaya Wiguna, Diki Sudrajat (Bogor)

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2011/01/03/NAS/mbm.20110103.NAS135553.id.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: